Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Ijin Menikah Lagi, Cinta Terlarang 2 Episode 24

Episode 24 Novel Cinta Terlarang Ini Dosa Siapa Session 2, Ijin Untuk Menikah Lagi


Novel Romance Bebebs.com-  Tepat senja itu Eva tengah menunggu seseorang yang pernah memberinya seorang putra datang untuk memenuhi haknya. Hak seharusnya hanya miliknya kini harus terbagi seperti ranting pohon, bercabang.


Sebuah hak yang membawa ingatannya kembali pada kenangan jahat masa lalu. Waktu itu entah bagaimana mulanya tangan suaminya sudah meremas dibalik lingire satin maron muda yang membungkus tubuhnya.


Jemari menari-nari lincah seirama nada musik kerinduan mengalun merdu nafas pemiliknya. Eva serasa melayang hinga suara petikan erangannya memenuhi ruang dan waktu. Bibir merekah bak strabery baru di panen dari kebun begitu bersemangat baku-hantam saling sedot-emut lincah.


Keduanya tidak perlu waktu lama seperti bayi yang baru terlahir di atas bumi. Suci dan murni, tanpa pembungkus kain, tanpa benang rajutan segala aturan, tanpa topeng kepura-puran.


Rasa itu mengalir seperti anak sungai yang ditepinya dihiasi belukar dan kembang setaman. Arus air itu menghanyutkan segala kepedihan dan luka membalut dada. Menenggelamkan segala masalah kehidupan yang membuat penat minda.


Eva merasakan tubuhnya diurapi rasa nikmat pekat. Apalagi ketika hentakan demi hentakan menggempur pertahanan. Sungguh ia membumbung tinggi tidak terkendali. Apakah Itu kerinduan atau hanya delusi? Tidak.

Pertarungan Rindu dan Dendam



Sejatinya Eva bukan merindukan Urya. Ia merindukan Raditya putranya yang saat ini bersama Eyang Putrinya di luar Negeri. Sudah satu minggu Anya menyusul Raditya dan kondisinya sudah mulai membaik meski...

"Sampai mati aku gak akan pernah memaafkanmu!! Catat itu. Sakit, perih... Sampai detik ini pun belum musnah dari hatiku."

Perlahan kebimbangan Eva membuncah antara benci dan rindu terhadap suaminya itu. Suami yang bahkan dirinya rela mati untuknya namun seolah tiada henti menyakiti hatinya.


"Apapun kesalahanmu, Mas. Aku bisa memaafkanmu. Tapi tidak pada suami selingkuh. Ah... Aku benci...
Benci... Benci... Dengan diriku sendiri. Kenapa aku masih saja mau menerimamu kembali?"


Siapa sangka Urya yang dianggap telah meninggal ternyata masih hidup dan begitu dekat tinggal di Jakarta. Seharusnya Eva bahagia melihat kekasihnya itu baik-baik saja dan tentu putranya tidak menjadi yatim.


"Ya jujur, aku memang tidak bisa pisah darimu. Meski begitu, dendamku ini abadi. Wanita mana yang mau dimadu? Jawab.

Tidak.....

Mulai dari pacaran diselingkuhin, sampai menikah pun, punya suami selingkuh. Sial. Kurang apa diriku ini, Mas. Kurang ajar karena cemburu?"

Satu persatu kenangan jahat itu mulai memenuhi minda. Eva hanya bisa memandangi lagit-langit plafon rumahnya. Di mana rumah tangga yang dibangun dengan suka-duka kini dipersimpangan jalan.

"Ya jelas lah aku cemburu. Mas itu suamiku. Aku gak habis pikir, sebagai sesama wanita. Gimana coba perasaannya. Melihat suaminya di rebut di depan mata. Hah? Bejek-bejek, unyet-unyet sampai ajur mumur rak karuan. Sakit, Mas. Sakit..."


Ufffh.. Eva membanting bantal di atas sofa lebih pada jengkel sendiri tidak jelas. Seolah diding-dinding rumahnya mengerising mengejeknya.


Apakah Eva akan tetapa menjalankan misi balas dendamnya atau berpisah saja dengan Urya? Dua pertanyaan menyiksa kini tengah berdebat sengit dalam minda.


"Sudah lama menungguku, Dek?"


Sebuah tanya membuat Eva menoleh pada suaminya. Urya baru saja tiba masuk rumah malam itu.

"Gak kok, Mas. Aku cuma menunggu Mas Urya dua puluh tahun saja. Dua puluh tahun itukan waktu yang singkat 'kan, Mas?" balas Eva ngambek seperti anak kecil.


Jelas saja ngambek, semenjak bertemu di rumah sakit hari itu, Urya belum menjalankan kewajiban sebagai suami.

Melihat istrinya merajuk, Urya hanya diam saja tidak bisa berkata apa-apa kemudian duduk di sebelah Eva.

"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu, Dek Va," ucap Urya lembut mencoba memecah keheningan.

"Apa? Ngomong aja.." belum sempat Eva menyelesaikan kata-katanya Alena dengan langkah gemetar masuk rumah mendekati mereka. "Ada apa lagi kamu ke sini?" tanya Eva sengit pada Alena.

Terlihat jelas dalam sorot wanita Seroja Bergoyang itu ketakutan. Alena hanya menundukkan pandanganya.


Dada Eva mulai diresapi resah. Makhluk betina paling di bencinya kini terang-terangan menampakan wajah.


Wajah yang selalu memaksa Eva ingin muntah saat melihatnya. Bagaimana tidak? Alena bukan hanya menaruh rasa pada Urya tapi juga melahirkan putri dari suaminya itu.


"Maafkan saya, Mbak Va. Saya tidak bisa menepati janji saya," kata Alena tanpa dosa.


Sesak tidak hanya meresapi dada Eva, kini justru bungkahan-bungkahan menggumpal merangsek dalam dada. Terang-terangan menceburkan Eva pada air keruh hingga membuatnya sulit untuk bernafas.

"Apa maksudnya ini?" tanya Eva mendelik menantang.

Mata perempuan berputra satu itu memerah menahan marah. Darahnya mendidih, wajahnya panas bagai disambit cemeti berapi.


"Tenangkan dirimu, Dek Va," sahut Urya mencoba menenangkan.


"Tenang katamu, Mas? Putra kita sekarat, Mas!! Tapi berani-beraninya Mas Urya datang berduaan dengan Alena. Apa Mas Urya tau? Walaupun hatiku sakit, aku bisa menerima Angela karena memang dia tidak bersalah. Tapi Alena...??"

"Karena itu lah. Mas sudah tidak sabar ingin menjenguk Raditya. Mas sudah tidak bisa menunggu lagi," tegas Urya.


"Apa maksudnya, Mas?"


"Adek tau apa maksud, Mas. Kenyataan Dita juga putriku tidak bisa aku hindari. Dita juga berhak mendapatkan haknya seperti anak-anakku yang lain. Mas gak mau melakukan kesalahan yang sama."

"Mas mau menikahi Alena?" tantang Eva.

Urya mengiyakan dengan anggukan kejam tanda minta ijin untuk menikahi Alena secara syah hukum agama dan negara.

"Baik kalau memang itu maumu, Mas. Tapi..."

"Tapi apa, Mbak?" imbuh tanya Alena segera ingin tau.

"Tapi ada syaratnya!"

"Apa pun syaratnya pasti akan kita penuhi asal Mbak Eva mengijinkan kita menikah."

"Mas Urya boleh punya istri berapa saja. Silahkan Mas Urya nikahi wanita bedebah ini. Asal dengan satu sarat.


Yaitu Mas Urya seutuhnya milikku. Dita, Lea dan Anni akan aku anggap sebagai anakku sendiri dan semua harta bahkan hidup Mas Urya hanya untukku. Kalian tidak akan menyentuh Mas Uya kecuali tanpa ijinku. Termasuk hak batin kalian. Sanggup?" ucap tegas Eva membuncah.


Rasanya Eva benar-benar tidak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya. Tidak mampu membendung sesak yang serta-merta menenggelamkanya dalam kekecewaan, rasa sakit. Nyesek. Perih tiada terkira.


"Maafkan aku, Dek!" Urya menghela nafas memenuhi ronga dada. "Kak Urya gak salah, Mbak boleh hukum aku sepuas hati Mbak. Tapi jangan pisahkan kita," imbuh tegas Alena.


Berdiri malang kerik, Eva tanpa bergeming sedikitpun mendengar percakapan mereka. Jika akibat mengomel sama dengan melahirkan yang mampu memutuskan ratusan urat saraf, tentu saja sudah mengulitpohonlah wajahnya.

Terinjak-injak Harga Diri

 
Bagaimana tidak? Suami paling dicintanya kini menghadap  bersama Alena istri simpananya dulu. Betapa Eva tengah menggelegak sehingga suaminya itu tidak tau diri.

Sekarang. Kesabaranya telah terperas habis. Semua nampak telah menyala panas membakar tidak terkendali.

Menantang.

Menusuk-nusuk remuk menghunjam perih hingga ke relung jiwa meneteskan air mata darah.

Ini bukan kali pertama Eva marah besar setelah dua puluh tahun pernikahanya. Tapi tidak seperti ini. Kemarahannya kali ini lebih disebabkan sengatan rasa dikhianati dari pada benci.

Wanita yang paling dibenci setengah hidup, kini tengah ada dihadapanya bersama suami yang bahkan Eva rela mati untuknya namun berkhiatat.


Dulu Alena menikung dari belakang dengan diam-diam, telah memaksa Eva lepas kendali untuk pertama kali. Bahkan hampir saja merenggut nyawa Eva waktu itu. Waktu melihat lelakinya rujak cingur bersama Alena yang terekam foto dalam gadget Urya.

Mana Eva tahu, Jika Urya yang mengetuk pintu dengan tulus, datang dengan pengorbanan dan bicara semanis madu ternyata diam-diam menabur bubuk silva beracun dalam manis cintanya.

Bayangkan saja...

Suatu malam Urya datang dengan menjadi pelita dalam kegelapan hati Eva. Mengobati segala luka lara akibat pengkhianatan cinta.


Bahkan Urya rela membiayai seluruh biaya kuliahnya dulu tanpa pamrih. Sudah banyak suka-duka yang telah terlewati bersamanya.


"Apapun keputusanmu, Dek Va. Mas siap menanggungnya. Mas tidak bisa berlari lagi.."


Plak

Belum selesai Urya menyelesaikan kata-katanya, sekencang mungkin Eva menampar mulutnya hingga bibirnya jontor. Masih bibir yang sama, bibir yang dulu selalu mampu membuai Eva melayang ke angkasa dengan rayu kata-kata manisnya.


"S-selamanya hanya kamu jiwaku, Dek Va. M-maafkan aku..." lirih imbuh Urya bersimpuh di kaki Eva yang di susul beriringan dengan Alena dengan menangis tergugu.


Kedua kaki Eva masih memaku terekat pada lantai sedang kepalanya terasa dihantam godam, lalu pecah otaknya porak-poranda berceceran bersimbah darah kepedihan yang teramat dahsyat. Bagaimana mungkin, dengan tanpa malu kedua bedebah itu ada dihadapanya untuk memohon maaf.


Mengetahui Eva berlinang air mata tanpa suara, makin pecah tangis kedua bedebah itu. Tangis permintaan ijin menikah secara syah hukum negara dan hukum agama.


Eva terjatuh tertunduk segugukan diatas sofa tidak berdaya. Matanya berkabut, pandanganya kosong. Pun otaknya tidak mengerti harus berbuat apa. Segalanya kosong.


Urya memang mendapat ijin istri pertamanya menikah lagi dengan wanita manapun termasuk Alena dan juga Angela tapi dengan satu syarat seluruh hidunya hanya untuk Eva. Itu kan sama aja bohong, masa mau saat mau menjalankan kewajiban sebagai suami harus minta ijin? Tidak masuk akal.


"Peluk aku, Mas. Aku kangen sama, Mas. Alena terserah mau pulang atau menginap. Nanti biar Bibi yang siapin kamarnya."

Eva sengaja membuat Alena terbakar cemburu. Ia memeluk manja di depan matanya. Satu tujuannya, agar Alena merasakan apa yang Eva rasakan. 

"Apa harus sekarang, Dek?"

"Apa Mas lupa saat ketahuan selingkuh dengan Na? Kalian mendokumentasikan kemesraan bergaul rapat. Hari ini Alena harus merasakan apa yang aku rasakan dulu atau aku tidak akan pernah memberikan ijin. Pilih mana, Mas?"

Hanya air mata Alena yang bisa berbicara, mengalir membasahi pipi. Bibirnya terkunci, lidah kelu tidak sanggup berucap. Hatinya terbakar cemburu hanya tidak berdaya. 

"Baiklah, Sayang."

Betapa Urya terperanjat merasakan lumatan bibir Eva begitu dalam dan menggebu-gebu. Itu bukan sebuah rindu tapi  kemarahan, berpagut dengan ketidakberdayaan. 


Tarian lumatan kemarahan  basah itu ternyata pandai sekali bermain-main, mengulum bibir Urya dengan lahap.  Eva   juga dengan leluasa membuka mulutnya, membiarkan lidah Urya  menelusup masuk, menyentuh langit-langitnya. 

Wangi  lembut nafas Eva, membuat suaminya  betah berlama-lama mengulum bibir yang ranum. Alena melihat semua itu hanya bisa menahan sesak dalam dadanya. 

"Mas aku kangen..." terdengar Eva  mengerang, hendak mengatakan sesuatu, suaranya tidak jelas karena mulutnya dipenuhi lidah Urya yang menjalar-jalar menimbulkan kenikmatan. "Mmmm....," imbuh desah Eva menggila.

"Ayuk ke kamar, Mas..." bisik Eva menggoda. Eva menatap miring Alena didepanya dengan senyuman kemenangan. 


Akhirnya Urya mengangguk, lalu membiarkan tangannya dituntun Eva.  Berdua mereka naik ke lantai atas masuk ke kamar meninggalkan Alena di bawah ruang tamu....


Lantas bagaimana dengan kehidupan mereka selanjutnya?

Next 

Daftar Isi Novel Cinta Terlarang 


Indeks link:  


(Tamat ) 


(On Going) 

Selamat membaca dan jangan lupa bahagia. Bersama Bercerita Bisa dan Terimakasih.

Sebelumnya > < Selanjutnya >
Bebeb Admin
Bebeb Admin Admin Bebebs Belajar Bersama Bisa Comunity

Post a Comment for "Ijin Menikah Lagi, Cinta Terlarang 2 Episode 24"