Kamu Bukan Dia, Cerita Romantis Sedih
Hamparan karpet warna coklat muda menghiasi jalan dari pintu masuk menuju pelaminan. Serasi dengan lantai granit dan dinding berwarna putih salju. Juntaian kain penutup atap yang dihiasi lampu kristal menambah kesan mewah. Sedikit kontras dengan konsep dekorasi.
Bagian audio melakukan cek suara elekton dan microphone di samping kiri pelaminan, memastikan semua alat siap digunakan. Bagian dekorasi telah selesai memasang rangkaian bunga hidup di atas pelaminan berwarna putih. Kombinasi mawar pink, melati gambir, tulip merah muda, chrysant, dan anyelir itu juga menghiasi pintu masuk ruangan yang ditata melengkung. Harum bunga mawar dan melati mendominasi, menyeruak menusuk hidung, menembus memori minda.
"Aku ingin pernikahan kita seperti klienmu minggu lalu, tapi harus pakai kombinasi bunga mawar pink, tulip merah muda, chrysant dan anyelir," katanya waktu itu.
Kami sedang duduk di sebuah bangku taman dengan gemericik air sebagai latar suara. "Oh ya, jangan lupa! Harus ada air mancur di depan pelaminan. Suasana serba putih dan shabby chic di Hotel Anyelir," tambahnya, sambil memainkan jariku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
"Lalu, kamu ingin memakai busana rancangan siapa? Apa menyewa saja?" Aku mengusap pelan kepalanya yang bersandar di bahu kiriku. Tangannya melingkar manja di lengan.
"Menyewa saja, buang-buang duit kalau bikin. Oh ya, aku ingin MUA-nya Barry Ritonga ya!" serunya. Aku mengerutkan kening.
"MUA tampan itu? Tidak!" seruku. Ia mencubit pinggangku pelan.
"Ngaku saja, kamu cemburu ya?" Matanya mengerling lucu sambil mengacungkan telunjuknya yang lentik. Menggodaku.
Aku mengeraskan dagu. Lelaki pantang mengaku cemburu. Bagaimana tidak, hampir setiap malam ia selalu membahas media sosial yang memperlihatkan hasil riasan lelaki itu.
"Ya sudah, pakai Khadijah aja biar kayak Barbie," ucapnya kemudian. Pipinya menggembung menahan tawa. Selanjutnya kami tertawa lepas.
Mentari sudah berada di ufuk barat, aku menggandeng tangannya menuju kendaraan yang kuparkir di depan taman. Kami baru saja mendiskusikan rencana pernikahan yang akan dilangsungkan enam bulan kemudian, setelah dilakukan pertunangan siang itu. Kekasih yang mengisi hati selama tiga tahun akan segera menjadi milikku seutuhnya.
Kami menjadi lebih sering berdiskusi dengan serius mengenai acara pernikahan. Orang tua menyerahkan sepenuhnya. Aku pun menyetujui rencana-rencananya, Kadang sedikit ribut jika usulnya tidak masuk akal. *
"Edgar, bagian catering bagaimana?" Sebuah tepukan pelan di bahu menyadarkan lamunan. Dian, sang pemilik wedding organizer, berdiri di sebelahku.
Aku tergeragap. "Oh, ya, siap!" Handy-talkie yang kupegang hampir terlepas. Dian kembali menepuk bahuku pelan. "Beberapa kali kerja bersama, kulihat kau sering melamun saat final checking. Jangan larut dalam rasamu sendiri. Perjalanan masih panjang," katanya. Perempuan berambut pendek, berseragam seperti crew yang lain itu berlalu dari hadapanku.
Aah, sebenarnya bagianku belum sesiap itu. Aku masih harus menyuruh karyawan untuk menata patung-patung; Eiffel, cupid dan inisial nama belum terpasang di atas meja-meja yang sudah dilapisi plastik bening di tengah ruangan.
terdengar ada ribut-ribut di bagian tengah ballroom. Aku melongok. Rupanya calon
pengantin sedang berdiskusi --kalau tidak bisa dibilang bertengkar-- dengan Dian. Telingaku mendengar kata-kata 'prosesi', 'orang tua', 'terlalu jauh'.
Apa peduliku menguping pembicaraan mereka? Kulanjutkan memberi instruksi pada teman-teman catering mengenai penempatan vas bunga dan tempat saji.
Keributan itu tak berlangsung lama, calon pengantin sudah duduk-duduk di tepi taman buatan depan pelaminan. Dian ada di depan mereka seperti berusaha menyepakati sesuatu. Calon pengantin wanita terlihat menggelayut manja di lengan calon suaminya. Segaris senyum terukir di bibirku.
Aku bersandar di meja dessert dengan patung Eiffel ̶ dari kawat ̶ yang sudah terpasang. Segala hal yang ada di ruangan ini mengingatkanku padanya. Beberapa pasangan memang sedang menggandrungi nuansa shabby chic untuk pernikahan mereka, tapi tidak pernah semirip ini dengan impian Dinda. Manjanya calon pengantin wanita, gedungnya, dekorasinya, temanya, hingga menu yang dipilih. Semua serba Dinda.
Aku hampir tak sanggup membayangkan bahwa ini bukan acara pernikahan kami yang tak pernah terlaksana. Di sini, profesionalitasku diuji.
Kemudian mindaku menayangkan memori di hari itu, dua hari sebelum hari H.
Kami mengadakan final checking karena kebetulan Dian ̶ yang kuminta menjadi wedding planner ̶ ada perlu besoknya dan gedung yang akan kami gunakan sedang kosong. Jadi, tidak apa melakukannya dua hari sebelumnya.
Semua bagian acara telah siap, gladi resik prosesi bersama keempat orang tua juga sudah dilaksanakan. Pukul sebelas malam kami keluar dari hotel memakai tiga mobil. Rencananya, aku dan Dinda mampir ke rumah saudara yang membuatkan perlengkapan prosesi adat.
Perjalanan tak terlalu jauh, hanya dua puluh menit. Namun, kami harus melewati hutan yang cukup panjang. Aku ingat saat itu masih sadar seratus persen ketika mengemudi. Dia pun masih semangat membahas perihal pernikahan. Sesekali kuusap rambutnya.
Tiba-tiba aku merasa ban melindas sesuatu. Kuhentikan mobil untuk memeriksa. Tidak ada apa-apa.
Kemudian lima orang bertopeng dan memakai penutup kepala menyergap. Dua orang menahanku, dua orang memaksa Dinda keluar dan menyanderanya, sedangkan satu orang mengobrak-abrik isi mobil. Tak mendapat apapun, orang itu menggerayangi saku celana dan bajuku. Nihil, sebab aku terbiasa meletakkan barang di tempat rahasia.
"Serahkan barangmu, atau salah satu dari kalian akan mati!" bentak orang yang mengobrak-abrik mobil.
"Ambil saja mobilku!" seruku. Mereka menggeram.
"Kami tak butuh mobilmu. Serahkan barangmu!" ulangnya. Kali ini ada pisau yang menempel di leherku. Kilatannya akibat pantulan lampu mobil yang belum kumatikan terlihat menyilaukan.
"Aku punya arloji yang sedang kupakai. Harganya setara sepeda motor baru. Ambillah! Tapi aku tak bisa melepasnya jika kalian masih menahan kami." Aku berusaha negosiasi.
Mereka melepasku. Dinda melotot karena arloji itu pemberiannya. Dia berusaha meronta. Aku tetap tenang dan memberikannya pada mereka. Beruntung sepertinya mereka puas.
"Kami melepas kalian. Tapi ingat, jangan lapor polisi karena kami sudah mencatat nomor mobil kalian. Jangan harap selamat!" ancam orang yang menerima arlojiku. Tiga orang berlalu, tinggal dua orang yang menyandera Dinda.
"Lepaskan kekasihku!" seruku. Mereka malah tertawa. Memainkan pisau di leher Dinda. Kekasihku itu menangis tersedu. Aku berusaha melawan mereka dengan beberapa jurus yang masih kuingat ketika mengikuti latihan bela diri.
Satu lawan satu. Tendanganku mengenai lengan lawan. Ia marah dan mengunci kakiku, perutku menjadi sasaran tinjunya. Rasanya ingin muntah ketika tangan kekar dekil itu mengenai bagian tengah perutku. Kulirik Dinda meronta-ronta.
Melihatku hampir lemas, lawanku semakin agresif menendang, meninju wajah dan dada. Rasanya hampir mati. Dengan sisa-sisa tenaga, aku berdiri. Kupegang kedua bahu lawan, lalu kutendang tepat di kemaluannya.
Ia meringis kesakitan kemudian lari pontang-panting memegangi bagian atas celananya.
Satu orang tinggi besar yang memegang Dinda mengumpat. "Bangsat!"
Didorongnya Dinda hingga terdengar suara "Bughh!"
Aku merasa Dinda jatuh terkena sesuatu yang keras, tetapi tak terlalu jelas sebab suasana gelap gulita dan orang yang tersisa itu merangsek maju menyergapku. Duel yang tak seimbang karena aku kehabisan tenaga membuatnya tertawa puas melihatku yang tersungkur tak bergerak, bersimbah darah di seluruh wajah. Mungkin dia mengira aku sudah mati. Kudengar langkah kakinya menjauh.
Aku merayap menuju Dinda. Tak bergerak. Dingin. Kurasakan nafasnya masih ada. Darah mengucur deras dari kepalanya. Aku meninggalkannya di tempat semula, lalu merayap menuju mobil yang tak jauh.
Kutekan klakson berkali-kali berharap bantuan, meskipun aku yakin tak ada yang mendengar kecuali lima orang begal itu.
Air mataku mengucur deras sebab Dinda semakin lemah. Kepalaku pun semakin pusing.
"Aku mencintaimu, Sayang. Jangan pergi!" teriakku di sisa tenaga.
Hanya matanya yang berkedip-kedip lemah sebagai jawaban. Darah masih mengucur dari kepalanya. Entah bagaimana kemudian, aku merasa dunia menjadi gelap.
Saat sadar, aku sudah berada di sebuah ruang perawatan. Kuteriakkan nama Dinda berkali-kali. Wajah-wajah sendu memperlihatkan bahwa kekasihku tak lagi dapat diselamatkan.
Aku memaksa ikut ke pemakaman Dinda. Mengucap perpisahan selamanya. Setelah memastikan baik-baik saja, mengizinkanmu.
Kulihat berkali-kali ibu mengusap matanya dengan tisu, seperti kehilangan anak kandungnya.
Rangkaian bunga yang sedianya menjadi hiasan pelaminan, ditaburkan menutupi tanah kuburannya.
Butuh waktu tiga tahun bagiku untuk pulih. Beruntung Denis, sahabatku, yang bersama denganku mendirikan usaha catering memaksaku agar kembali. Meskipun setiap melihat kebahagiaan pengantin di atas pelaminan, hatiku menciut.
....
"Edgar, aku udah selesai, pulang dulu ya! Jangan suka melamun."
Dian berpamitan. Tas kecil warna salem sudah bertengger di bahunya. Beberapa lampu sudah dimatikan.
"Tunggu!" seruku. Dian mengernyit. Ia berbalik dan mendekat.
"Dian, aku tahu sangat sulit melupakan Dinda di hatiku. Kamu harus tahu betapa beratnya terpisah dunia dengan kekasih, sehari sebelum pernikahan." Aku tersenyum kecut. Dian hanya diam.
"Aku ingin melanjutkan dan menata hidupku. Dian, dapatkah kita melakukannya bersama? Aku janji tak akan ada lagi nama Dinda kusebut di antara kita."
Aku memegang tangannya. Dian menubrukku, memeluk erat.
"Edgar, tahukah kamu, rasa ini kupendam jauh di dasar hati saat kau memutuskan menjalin hubungan dan akan menikahi Dinda sahabatku. Aku yakin rasa ini tak akan pernah terbalas. Tahukah kamu, aku ikut hancur ketika melihatmu hancur? Ya, aku mau mengisi hatimu dan membantumu bangkit asal kau tak lagi terpuruk dalam kesedihan."
Pelukannya makin erat. Ragu aku mengangkat tangan untuk membelai pungungnya.
The End
Tak ada yang berhak menentukan nasib cinta, kecuali Sang Pemilik Cinta. Kau hanya perlu menjalani, berhenti sebentar untuk memaknai, kemudian melanjutkan perjalanan dengan pengertian yang baru.
Hhh

Post a Comment for "Kamu Bukan Dia, Cerita Romantis Sedih"
Disclaimer: Semua isi konten baik, teks, gambar dan vidio adalah tanggung jawab author sepenuhnya dan jika ada pihak-pihak yang merasa keberatan/dirugikan silahkan hubungi admin pada disclaimer untuk kami hapus.