Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Korban Janji Palsu, Aku Disini, Kamu Dipelukan Orang Lain

Cerita Cinta Remaja  Sedih dan Bikin Baper 



Bebebs.com - Terukir sudah sebuah nama untuk singgah di dalam hati, tersambut hangat dengan jiwa raga yang akan selalu setiap mendampingi. Hati sedang bahagia akan cinta baru bersemi, sejak menatap wajahnya untuk pertama kali.

Siapakah dia? Aku belum pernah mengenalnya! Tatapan mata begitu sangat menyejukkan kala dipandang dengan lembut, senyuman tipis tersemat pada wajah rupawan. Entahlah kapan aku membuka pintu hingga berani jatuh cinta sepenuh hati!

“Kenapa kamu memandangku dari balik jendela kamarmu?” tanyanya saat sedang singgah pada halaman luas tanaman milik orang tuaku

Kututup cepat jendela, tanpa menjawab pertanyaan yang membuatku bisa saja terpojok.“Aku bertanya kenapa kamu malah hilang seketika, apakah aku begitu menyeramkan hingga kamu takut dengan pertanyaanku barusan?” ucapnya masih melihat jendela

Aku mencuri pandang dibalik gorden, “Aku malu!” gumamku sendiri

“Ranti!” panggil ibu menghapus lamunan, “Berikan minum ini pada tamu Ayahmu, ibu akan pergi ke toko untuk membeli minyak goreng!”

Aku tidak bisa menolak perintah Ibu, apalagi nampan berisi minuman telah aku pegang dengan sedikit gemetaran. “Baik, Bu!” berjalan keluar

Pria Pilihan  Ayahku 


Aku harus berusaha tenang saat menghampirinya, apalagi ayah sedang berbicara soal jual beli tanaman hias. “Silahkan!” tanpa melihat wajahnya

“Perkenalkan ini anak sulungku Ranti!”

Kenapa ayah memperkenalkan namaku? batinku berbicara sendiri! Aku merasa malu, apalagi aku sudah menatap wajahnya tadi! Apa yang harus aku lakukan, apa aku pergi saja? Tidak, itu sama saja tidak menghormati tamu!

Sandi tersenyum melihatku yang masih menunduk, “Ranti, nama yang bagus!”

“Cantik bukan?” Tanya ayah membuatnya tersedak, “Ternyata pertanyaan itu telah membuat masalah ringan pada tenggorokanmu!”

“Iya pak, saya tersedak dengan pertanyaan itu! Dia cantik sekali, terlihat tanpa sapuan make up atau sekedar riasan pada penampilannya!” kagum

“Memang cantik, mirip ibunya. Dulu saya juga pernah ganteng, sekarang sudah mulai berumur!” jelas ayah pada Sandi yang usianya tidak jauh dariku, dia tersenyum begitu juga ayah

“Nanti siang putriku akan mengantarkan pesanannya, karena nanti saya harus mengurus pekerjaan lain!” jelas ayah mengakhiri pembicaraan

“Baiklah, terima kasih! Kalau begitu saya pamit” pergi meninggalkan kami

“Ayah....” merengek seperti anak kecil, “Kenapa harus Ranti yang mengantarkannya, kenapa tidak orang lain saja!”

“Yang lain harus membantu ayah, jadi kamulah sebagai gantinya, lagi pula kamu harus belajar mengurus usaha yang sudah lama ayah bangun!”

“Ranti tahu, tapi Ranti ragu untuk mengantarnya!”

“Sudah jangan banyak mengeluh!” meninggalkanku yang masih tidak terima dengan keputusannya
Mengantar bunga pada rumah laki-laki itu

“Permisi!” panggilku dari luar pagar rumah mewah

Aku melihat berjalan menghampiri, “Silakan masuk... Letakkan saja tanaman itu di teras!”

Datanglah pembantu membawa segelas jus. “ Terima kasih sudah mengantarnya! Maaf tadi aku lupa memperkenalkan namaku, panggil saja Sandi. Aku datang ke sini untuk menjalani KKN, selain itu juga belajar tentang desa ini!”

Aku hanya tersenyum tanpa tahu harus menjawab apa?

“Bisakah kamu menemaniku untuk belajar tentang desa ini?” pintanya

“Saya akan membantu, lagi pula ayah juga seorang kepala desa. Jadi sudah sepatutnya saya membantu jika ada warga maupun pendatang!”

“Terima kasih”
Menemanimu, itu keinginanku Sandi!

Hadirnya Memberikan Raya Nyaman 


Kedekatan ini membuat perasaan semakin nyaman setiap dekat dengannya, Sandi selalu perhatian, baik dan suka menolong. Hal itu membuatku semakin jatuh cinta, walaupun hampir setiap hari bersama, tidak ada kata darinya untuk menceritakan tentang kehidupan. Mungkin tidak ada yang penting!

“Pertanian di sini hasilnya sangat bagus meskipun masyarakat masih menggunakan cara tradisional, tapi hasil yang didapatkan tidak jauh berbeda dengan sistem modern!” melihat hamparan tanaman padi yang siap untuk dipanen beberapa hari lagi

“Masyarakat di sini percaya kalau merawatnya dengan cara nenek moyang dulu akan menghasilkan lebih banyak, selain itu ada beberapa langkah-langkah yang wajib dilakukan oleh pemiliknya. Seperti tradisi turun-temurun!” Sandi menyimak penjelasanku

“Kenapa masyarakat tetap memilih cara turun-temurun, padahal teknologi pertanian sekarang mulai canggih?”

“Kalau memakai cara turun-temurun lebih baik, apalagi tanah yang digunakan untuk menanam padi lebih memilih untuk menggunakan pembajak sapi bukan dengan mesin, begitu juga untuk tanaman lain seperti dicangkul. Itu akan menjaga tanah tetap subur dan terhindar dari mesin yang bisa saja merusak kesehatan tanah secara bertahap!”

Sandi mengangguk, “ Ternyata begitu alasannya! Lalu bukankah anak desa ini tidak ingin melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi seperti kuliah?”

“Ada beberapa dari anak sini yang pergi merantau untuk melanjutkan pendidikan atau mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih besar!”

“Kenapa masyarakat sini lebih memilih untuk menjual hasil mentah mereka daripada mengolahnya?”

“Sebenarnya ada sebagian yang diolah seperti sayuran atau rempah-rempah untuk obat alami. Jika banyak hasil yang diolah mereka ragu untuk penjualannya, apalagi ini buka destinasi wisata, namun aku beberapa kali belajar tentang mengolah hasil dari masyarakat, yang bisa bertahan lebih lagi!”

“Apa itu?”

“ Banyak sih seperti rempah-rempah, olahan makanan ringan atau hasil bumi yang bisa bertahan lama. Aku menitipkan di pusat oleh-oleh kota, meskipun hanya sedikit tapi aku terus berusaha membuat produk lagi!”

“Kamu hebat meskipun tidak bersekolah tinggi! Maaf ada daun di rambut kamu!” dengan lembut Sandi mengambil daun, lalu merapikan rambutku kembali

“Ini buat kamu!” memberikan kotak bekal berisi sandwich yang sering dimakan hampir setiap hari

“Ini apa?”

“Sandwich kamu coba, buka mulut kamu!” Sandi menyuapiku, aku tercengang melihat wajah begitu dekat, jantung berdetak kencang

“Enakkan?”

“Iya!”

“Nanti malam aku mau ajak kamu jalan, sekalian kita makan berdua! Nanti aku jemput kamu!”

“Iya, kalau begitu aku pulang dulu sudah siang juga!” aku pergi meninggalkannya dengan senyuman, terlihat balasan senyuman darinya
Jalan berdua dengannya, selalu menjadi harapan

“Ranti!” panggil Sandi di teras depan pintu

“Hai” tersenyum

“Jangan pulang larut malam tidak bagus anak gadis!” ucap ayah menghampiri

“Iya Pak, kalau begitu kami jalan dulu!” jawab Sandi menundukkan kepala tanpa menghormati

“Hati-hati!” pergi meninggalkan kami untuk menyambung makan gorengan dan kopi hitam kesukaannya

Terbentang luas langit tampak indah oleh hiasan gemintang bersinar terang, meski rembulan masih menampakkan sepatuh dari keutuhan.

“Ternyata di sini ramai ya!”

“Biasanya orang-orang ke sini sekedar makan atau nongkrong menghilangkan penat bekerja!” melihat orang sedang menongkrong sambil senda gurau

“Seperti itu nasi goreng?” tunjuk Sandi pada gerobak dorong berwarna coklat, dengan cahaya lampu lumayan terang

“Ayo!” kuajak berjalan menghampiri

“Ayo.” Berjalan mengikuti

“Dulu bapak itu bekerja di luar kota, jadi cuma beliau yang berjualan nasi goreng selama ini. Rasanya enggak jauh, pasti kamu suka!” duduk di kursi plastik, “Pak, nasi goreng dua dimakan sini!”

“Nyaman juga ya tinggal di desa ini, udaranya masih segar banyak sawah masih terjaga. Oh iya, kalau pasar di sini jauh apa dekat?” tanya Sandi sambil menunggu nasi goreng masih dibuat

“Aku senang bisa melihat tamu ayah nyaman tinggal di sini, kalau pasar lumayan jauh sekitar setengah jam jalan kaki, biasanya orang sini berangkat ke pasar bareng-bareng gitu. Kamu bisa ikutan, tiga hari lagi aku akan ke pasar!”

“Boleh. Jam berapa memangnya?”

“Jam enam pagi berangkat”
Kenapa ada dia di antara kita berdua?

Cemburu dan Hati Terluka 


Apa Sandi sudah memiliki kekasih? Itu yang selalu menjadi pertanyaan dalam benakku. Ingin aku bertanya, tapi ragu. “Tidak terasa setelah beberapa hari tinggal di desa ini, aku merasa sangat terbantu. Banyak hal yang kamu ajarkan, terima kasih!” ucapnya tersenyum hangat

“Aku juga senang bisa membantu!”

“Sandi!” panggil seorang perempuan yang sedang berjalan menghampiri kami

Sandi beranjak dari bangku dekat pohon kami berteduh dari cuaca panas, “Gisella, kamu ngapain ke sini? Aku harus selesaikan KKN!”

“Aku kangen sama kamu, makanya aku datang menemuimu!”

“Dia siapa?” tanya Gisella

“Oh, ini Ranti anak kepala desa yang selama ini membantu aku menyelesaikan tugas!” jelas Sandi

Aku hanya tersenyum

“Ranti. Kenalkan ini Gisella tunanganku!” ucap Sandi menyuruhku memperkenalkan diri

Ucapan itu membuat perasaan tercabik-cabik dengan sangat keras, seperti pisau tajam dengan sengaja melukai tanpa sebab. Menyisakan sayatan besar, hati ini tidak pernah merasakan sesakit yang sekarang dialami.

Sudah jelas kecewa dengan ucapan yang membuat terus menahan air mata untuk tertumpah tanpa ampun, seketika pandangan telah berubah memerah penuh emosi dan sesak dalam dada. Aku sudah kecewa!

“Tunangan!” tanyaku lagi tanpa sadar meneteskan air mata

Aku masih dia beberapa menit, “Lalu apa arti dari perhatian yang selama ini kamu berikan?”

“Karena kamu sudah membantuku selama itu, tidak lebih dari itu. Apa kamu sudah salah mengartikan perhatianku?” Tanya Sandi tidak menyangka aku bisa jatuh cinta dan berharap terhadapnya

“Aku pikir kamu menyukaiku!” derai air mata tanpa henti menjelaskan bahwa sedang terluka juga kecewa akan segalanya

“Kamu salah, lagi pula setelah pulang dari sini aku akan menikah dengan Gisella!” jelasnya kembali menyayat hati

“Maaf aku telah salah mengartikannya!” aku berlari meninggalkan mereka, aku tidak kuat lagi menahan semua ini, seperti inikah cinta?

Ketika hati telah salah mengartikan perhatian, karena cinta dan perhatian dua kata berbeda. Ketika perasaan sudah mulai jatuh cinta, lalu kenapa ada seseorang hadir untuk mematahkan harapan. Atau diri ini terlalu berharap? Perhatiannya hanya sekedar membalas kebaikan selama ini, kan kuterima meski hatiku sakit!


The End 

Daftar Isi Cerpen 


Indeks link Cerpen Remaja 

Judul : Cinta kandas oleh kabar pertunangan

Titimangsa : Jawa Timur, 19 Juni 2021

Penulis : lianasari993

Selamat membaca dan jangan lupa bahagia. Bersama Bercerita Bisa dan Terimakasih. 

lianasari993
lianasari993 " Bukan Sekarang Tapi Nanti "

Post a Comment for "Korban Janji Palsu, Aku Disini, Kamu Dipelukan Orang Lain"