Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Musim Gersang Seroja Muda, Cinta Terlarang 2 Episode 8

Baca Novel Cinta Terlarang Ini Dosa Siapa? Seasons 2 Episode 8



Taukah kamu apa paling menyiksa dari jatuh cinta? Adalah saat rasa bermekaran hanya tidak tepat waku. Musim gersang seroja muda terulang kembali.

Apa yang akan terjadi jika karma masa lalu terulang kembali. Tanpa disadari perasaan Dita ke Raditya setiap hari semakin tumbuh subur. Sementara ada Anya harus menelan kepahitan situasi tidak berpihak. Semuanya menjadi gersang dan membakar dada. Lantas bagaimana jadinya?

Awal Masuk Kuliah Mahasiswi Baru 


Permasalahan baru setelah lulus SMA adalah memilih universitas sesuai institusi yang sudah di putuskan. Bagaiman pun juga, tempat menimba ilmu akan mempengaruhi kehidupan sosial ke depannya.

Beruntung Anya akhirnya diterima pada  salah satu universitas di kawasan Grogol, Jakarta Barat. Begitu juga Raditya masuk Fakultas Arsitektur Lansekap prodi Desain Interior dan Anya masuk Fakultas Managemen Bisnis prodi Akuntansi Publik.

Seperti mahasiswa pada umunnya, perjalanan menjadi maba di awali dari OSPEK. Semua mahasiswa, pasti awalnya merasa ospek itu ribet dan menjengkelkan. Karena mereka  harus preapare semua yang ditugaskan untuk di bawa pada saat ospek.

"Udah siap semuanya?" 

Raditya bertanya pada Anya  dalam mobil tengah perjalanan berangkat ke kampus. Keduanya begitu bersemangat dan terlihat serasi. 

Anya bagi Eva seperti putrinya sendiri. Ia menanggung semua biaya hidup bahkan kuliyah Anya  hingga saat ini.

Aku tidak tau bagaimana caranya membalas semua ke baikan Mama Eva.  Hanya satu hal yang bisa kulakukan, aku harus berprestasi dan dapat dibanggakan oleh Mama.  Tapi...? Anya merasakan delima dalam hatinya.


"Udah, Kak," balas Anya sembari menyiapkan kipas berlogo universitas, kertas karton merah silver, ligthstick dan lain-lain.

"Udah santai aja, Nya. Rileks."

Tangan Raditya membelai mesra pucuk kepala gadis indo-turk itu sembari melemparkan senyum khasnya. Ada kedaiman dirasakan. 

Kabut telah tersingkap dari hatiku membuyarkan segala keraguan dalam khayal. Kegelapan telah pergi meninggakan kedua manik mataku. Kak Raditya, hatiku telah tertambat padamu.

Rasa cintaku  untukmu  telah kubasuh dengan air mata agar selamanya murni dan indah. Jantung ini masih berdetak, menandakan aku masih setia. Jika darah pun sudah berhenti mengalir, akupun masih tetap setia. Bisakah kamu mengerti perasaanku ini, Kak? Tanya Anya dalam hati. 


"Iya Kak," balas Anya  tersenyum manis menatapnya.


Terimakasih Kak telah menjadi pelipur lara. Seluruh jiwa ragaku, rela aku berikan untukmu. Batin Anya lagi.

"Maafkan aku, Nya!" ucapnya dengan mata nanar berkaca. Terlihat wajahnya layu meski berusaha meneduhkan.

"Kak Raditya  gak salah. Akulah yang bersalah karena tak mampu mengendalikan diri," balas Anya  tercekat.

Kering kerontang minda Anya teringat tragedi saat liburan di Bali. Raditya masih saja menyalahkan dirinya sendiri dengan apa yang terjadi. 

"Aku berdosa padamu, Nya. Apa yang harus aku lakukan untuk menebusnya?"

"Stop Kak! Kalau kakak bicara seperti itu terus, turunkan aku di sini sekarang juga. Biarkan aku jalan kaki menuju kampus." Tantang Anya mendelik menatapnya tajam.

Apa Kak Raditya tidak bisa menghargai sedikit saja pengorbananku. Aku hanya tidak ingin berutang budi padanya. Apa aku salah ingin mendapatkan cintanya? Aku sudah meneguhkan hati, mencintaimu adalah kerelaanku. Tekad dalam Anya dalam hati.

"Baik, Nya. Maafin Kakak!"  Raditya mengelus punggung tangan Anya. Menghela nafas, kemudian melemparkan senyum penyesalan. Mobil terus melaju, menggelinding muram bersama perasaan masing-masing. 

Setelah sampai kampus, Raditya mencari tempat untuk memakirkan mobil. Selanjutnya  keluar dari mobil melangkah beriringan menuju GOR untuk mengikuti OSPEK pada hari pertama.

Setibanya di dalam, Anya dan  Raditya mengikuti Technical Meeting (TM) OSPEK dengan antusias, meneriakan yel-yel kebanggaan Fakultsas mereka masing-masing. Hal paling berkesan adalah saat beradu yel-yel dengan Fakultas lain.

Bagi Anya  hari pertama dan kedua saat OSPEK itulah yang akan selalu teringat. Paling rame, paling menyenangkan dan paling semua keren dan mengesankan. Terutama saat para senior meminta mereka untuk mencari semut hamil. Benar-benar jahat dan tidak masuk akal namun menyenangkan bukan?

Badai Menghantam Liburan Sekolah di Pulau Dewata 


Liburan sekolah memang moment  pas untuk bersenang-senang sekaligus belajar banyak hal. Anya, Dita, Lea dan tentu saja   paling ganteng, Raditya berlibur bersama ke Pulau Dewata Bali. Semua biaya di tanggung oleh Om Bayu, jadi liburan kali ini benar-benar geratis.

Selama dalam pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bali, Anya  duduk bersebelahan dengan Lea dan  Raditya bersebelahan dengan Dita. Tanpa rasa curiga, Anya menikmati perjalanan itu.

"Boleh nanya gak?" Lea membuka percakapan sembari memegang lengan Anya.  Gadis cantik berdarah Sunda-Jawa itu menatapnya dengan tersenyum.

"Boleh. Apa?"

"Kak Raditya udah punya pacar belum?"  Lea menatap serius. 

Seperti petir menyambar hati Anya hancur berkeping-keping. Kenapa Lea bertanya seperti itu? Jangan-jangan dia juga diam-diam menyukai Raditya.

"Kenapa emang?" Anya  pura-pura tersenyum manis di depan Lea Putri Gina Aulia. 

"Jawab aja Kak Kanya. Udah punya belum. Kakak adiknya pasti tau 'kan?"

Adiknya? Aku bahkan tidak ada hubungan darah sama sekali dengan cowok ganteng bernama Raditya itu. Itulah penghalang cintaku padanya selama ini. Andai kamu tau Lea? Aku lebih baik tidak dianggap adiknya, itu sangat menyakitkan. Guman Anya dalam hati. 

"Setau gue sih belum. Tapi Kakak gak tau ya. Mungkin sekarang sudah punya."

"Yang jelas dong Kak. Punya apa gak?"

"Lea, denger. Kakak benar-benar gak tau. Selama ini Kak Raditya tidak punya teman cewek kecuali Dita. Itupun hubungan mereka baru baik setelah bertemu Annie, adikmu."

Lea mendengar penjelasanku terlihat merasa bahagia. Wajah imut cantiknya berseri-seri seperti bunga bermekaran di pagi hari.

"Bisa bantu aku gak, Kak?"
"Bantu apa Lea?"
"Janji ya... Jangan bilang sama siapa-siapa."
"Iya! Apa?"

"Aku suka ama Kak Raditya."

Begitu mudah Lea mengurai kata-kata dari bibir mungilnya. Kata-kata yang justru membuat Anya semakin terbakar cemburu. 

Saingan mendapatkan Raditya bertambah satu lagi. Bukan hanya Dita namun ada juga Lea, benar-benar menyusahkan. 

"Bantu aku ya please," imbuh Lea lagi.
"Kenapa loe gak ngomong sendiri ama Kak Raditya?"
"Pasti aku akan mengungkapkannya. Lihat saja nanti."

Musim gersang seroja muda terulang kembali. Apakah itu sebuah karma masa lalu atau semesta sedang memainkan drama kehidupan? 

Burung besi raksasa itu akhirnya mendarat juga di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Mereka  langsung dijemput taxi menuju salah satu hotel yang sudah di booking oleh Om Bayu di Tabanan, Tanah Lot Bali. 

Sesampainya di hotel, Raditya di kamar terpisah sendiri, sementara Anya, Lea dan Dita satu kamar.

"Kenapa loe nagis, Ta?" Anya melangkah mendekat. Dita masih saja mematung di beranda hotel memandangi birunya laut yang tenang.

"Gue gak tau, Nya. Seolah-oleh tempat ini gak asing buat gue," balasnya sedan.

Sepertinya ada ikatan yang begitu kuat dengan surya cewana di kawasan Pure Tanah Lot itu. Mungkinkah ada hubunganya dengan masa lalu keluarga Dita? Hanya angin menampar-nampar wajah yang tau jawabannya.

Neraka yang Tak Dirindukan


Seperti birunya laut yang tenang, hari pria memang selalu tidak terduga. Begitu juga dengan Raditya. Ia kini sedang bercengkrama manja di dalam pondok beratap ilalang dengan Dita.

Rasa cemburu Anya membawanya tanpa sengaja mengikuti mereka dari kejauhan. Ada semacam rasa tidak rela dan gelisah berbenturan dalam minda. 

Musim panas akhirnya tiba juga. Gersang di Pulau Dewata mampu mencairkan hati Dita yang telah lama membeku, lebih dingin dari kutub utara. 


"Akhirnya aku bisa memandangmu sepuas hati." Raditya menatap lekat dimata Dita. Siapa sangka dua orang saling membenci kini saling memahami. 

"Terlalu hiperbolis, Dit. Loe selama ini suka curi pandang gue  'kan? Secara gue cantik gitu loh."

"Gak kebalik tu. Lu aja sok jual mahal. Pakai drama suka marah-marah segala. Padahal suka gue perhatikan?"

"Iya. Suka sih suka. Tapi gak sampai ngompol di celana juga keles. Gak boleh nakal ya. Awas loe macam-macam disini."

"Tunggu, apa maksudnya gue ngompol di celana?"

"Aduh masih ngeles juga. Waktu pertama kita kencan, masa lupa?" Dita mendelik, mencebik manja. 

"Ohh itu air minum yang tumpah. Gara-gara kamu sih buat detak jantungku berantakan. Iya gue suka ma loe. Mau gak jadi pacar gue?"

"What?.... Ceritanya loe nembak gue. Waduh gak ada romantisnya sama sekali. Gak...."

Raditya lesu, menundukkan kepala dan merasa hancur. Susah payah mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan cinta. Jawabannya "Gak" sakit hanya tidak berdarah.

"Gak...!?"
"Iya gak nolak maksudnya."
"Rese banget loe, Ta. Artinya kita jadian?"
"Kita? Emm loe aja kali. Iya gue juga suka sama loe."

Raditya memeluk Dita, mendaratkan kecupan hangat di keningnya. 

"I want  to kiss you?" 
Dita mengangguk sebagai jawaban sebelum akhirnya......

Anya tanpa sengaja mendengar Raditya dan Dita jadian hanya bisa menangis. Remuk-redam dalam dada.

Deru angin laut menampar-nampar rambut Anya  yang jatuh menutupi wajah. Sebening tirta melompat membanjiri pipi panas terbakar bersama teriknya mentari siang itu.

Suara Anya  layu tercekat bersimbah air mata membuat tubuhnya  gemetar terkapar. Ia mematung mengintip di balik pepohonan kelapa yang  tidak jauh dari Dita dan Raditya.

"Bisakah kamu memandangku sebentar saja di sini. Sekejap lihatlah, bisa 'kan?"  

Anya tergugu, kedua kakinya sudah tidak mampu menopang berat batin tubuhnya. Ia  terjatuh kemudian menangis sejadi-jadinya. 

Anya tidak mampu lagi, sungguh tidak sanggup. Mengunyah jantung tersayat-sayat sembilu tersiram air lemon bertabur garam. Perih sakitnya tiada terkira, mengrerogoti jiwa yang malang.

"Kak Raditya, apapun yang terjadi nanti? Kamu harus mengakui cintaku."

Anya berjanji  disaksikan birunya laut yang begitu tenang namun tidak terduga. Ia bertekad bulat meneguhkan hati akan melakukan sesuatu tidak terduga pula untuk  Raditya agar tidak bisa menolaknya.

Segera Anya menyeka air matanya sembari menghela nafas dalam-dalam lalu membuangnya ke udara. Ia harus pura-pura tegar di hadapan mereka seolah tidak terjadi apa-apa. 

Seharian penuh berjalan Anya bersama Lea menyusuri pantai hingga senjapun tiba. Sedangkan Raditya masih  berkasih manja berdua.

"Kak Dita apa pacarnya Kak Raditya, Kak?" Lea semakin kepo.

"Mungkin saja," balas Anya parau dengan suara tercekat.

"Gak masalah mereka pacaran. Selama janur kuning belum melengkung, aku gak akan berhenti bersaing dengan Kak Dita," ucap Lea lagi tanpa dosa.

"Gila loe Lea."

"Denger ya, Kak. Cinta itu harus di perjuangin. Almarhumah Mamaku dan Mama Angela baik-baik saja menjadi istri Papa. Bahkan Mama Angela menyayangiku lebih dari dirinya sendiri," jelas Lea.

Betapa terkejutnya Anya mendengar cerita Lea. Semua pertanyaan buntu kini seakan mulai terurai. Mungkinkah Om Bayu adalah papanya Raditya? 

"Jadi Tante Angela itu bukan mama kandung loe?" Anya  kaget seraya mengernyitkan kening.

"Iya Kak. Mamalah yang meminta Papa menikahi Mama Angela."

Mendengar penjelasan Lea, Anya  hanya tersenyum seoalah tidak percaya. Perempuan berambut panjang mana yang mau berbagi cinta? Jawab. 

Anya  mendapatkan satu hal dari Lea, cinta harus di perjuangkan dan harus rela berkorban. Ia hanya tidak mau menyesal nantinya.

Laksana ombak menerjang samudra yang tidak pernah berhenti dan mengenal lelah. Setia Anya  juga tanpa mengenal masa, abadi selamanya.

Anya sudah bertekad akan menjerat Raditya dengan mahkota suci paling berharga miliknya. Walau harus menderita ribuan tahun, Anya rela asal cintanya diakui oleh Raditya. Apa yang akan terjadi selanjutnya? 

Next

Daftar Isi Novel Cinta Terlarang 


Indeks link:  


(On Going) 


(On Going) 

Selamat membaca dan jangan lupa bahagia. Bersama Bercerita Bisa dan Terimakasih.

Bebeb Admin
Bebeb Admin Admin Bebebs Belajar Bersama Bisa Comunity

1 comment for "Musim Gersang Seroja Muda, Cinta Terlarang 2 Episode 8"