Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Jerat Kembang Pikat Mutiara, Cinta Terlarang 2 Episode 9

Sebuah Novel Cinta Terlarang Season 2 Episode 9


Baru saja jadian, Dita   menundukan kepala mencoba memikirkan skenario apa yang akan mereka berdua mainkan di masa mendatang. Apakah mereka akan tetap bisa berhubungan walau terpisah ribuan kilometer seandainya tidak berjodoh?

Menabahkan hati, Raditya mengusulkan mengambil jalan pintas, menyusuri pematang sawah yang tidak begitu jauh dari pantai. Pulau Dewata Bali selain terkenal keindahan laut juga desa-desa, gunung dan persawahan yang memanjakan setiap mata memandang. 

"Loe cantik sekali, Ta." Dada cowok itu bergetar. 
"Emang. Gue udah cantik dari orok." 

Dita tersungging, senyumnya merekah seperti jamur cahaya malam.

Apakah sebuah kebetulan atau sekedar konspirasi, bulan hampir purnama, awan hujan tidak tampak, sehingga malam tidak terlalu gelap.  Pepaduan sawah tera-siring, cahaya lampu dan alam begitu menakjubkan. 

"Nyebelin banget sih, loe. Males ah."
"Idih gitu aja udah ngambek, Dit? Kek anak kecil aja."
"Dasar negara republik indonesia." Raditya mencubit hidung Dita mesra.

Bahkan terlihat pemetang sawah seperti lintasan-lintasan bersinar membentuk aneka kotak hitam yang adalah sawah-sawah tanpa padi. Ini baru musim tanam, padi belum lagi muncul dari air  tergenang. 

Demikian bayangan bintang-bintang dan bulan nampak di permukaan sawah, bagai pelita-pelita penunjuk jalan. Menuntun mereka pada perjalanan panjang yang gelap dan terang beriringan. 

"Jangan khianati cintaku ya, Dit. Asal loe tau. Gue sebelumnya tidak percaya dengan cowok. Gue tidak mau bernasib seperti mama."

"Apa maksudnya? Coba cerita aja."

"Gua udah tau bahwa Papa Agra bukan papa kandung gue. Mama menutupinya selama ini. Papa menikahi mama saat mama sudah hamil gue. Lelaki tidak bertanggung jawab."

"Iya gue tau, Ta. Paling tidak loe bersyukur masih punya papa dari pada gue tidak punya papa sejak dalam kandungan."

Berdua mereka berjalan beriringan, lalu masuk ke perkebunan masyarakat  yang memisahkan persawahan dan area  penginapan. 

Pohon-pohon nyiur tinggi menjulang sehingga sinar benda-benda langit malam tetap bisa menerobos menerangi bumi. Laksana pelita sorot sorot, membentuk beraneka tuas sinar, seperti pilar-pilar putih yang menjulur ke bawah dari langit. Begitu mempesona sekali langit malam itu. 

"I love you, Dit. Entah apa jadinya jika loe mengkhianati cinta gue. Apa gue sanggup lagi di dunia ini?"

"Omong apaan sih loe, Ta. Apapun yang terjadi nanti, gue akan tetep sayang ma loe, Dita judes. Emmm..."

Kini Dita  bisa berjalan sambil memeluk lengan Raditya, terbebas dari kekhawatiran dilihat orang banyak. Berjalan di pinggir pantai, tidak mungkin bisa bergandengan mesra begini. Biar bagaimana pun, ada Kanya, Lea, Anni, Om Bayu dan Tante Angela.

Mereka belum siap hubungan sepasang kekasih yang baru saja terjalin diperlihatkan pada semua orang. 

Tampaknya  tidak ada orang lain melintas di kebun perkampungan itu. Mereka bisa bermesraan  sambil berjalan pelan, terutama jika jalan sedang lurus. 

"Pulang ke penginapan, yuk. Gak enak ma Om Bayu dan Tante Angela. Besok kita bisa jalan-jalan lagi."

"Ya udah  kita balik. Jaga diri loe untuk gue ya, Ta. Gue sayang ma loe."

Dita tinggal memalingkan dan mengangkat muka, membiarkan Raditya  mengecup ringan keningnya. 

Nafas mereka yang hangat berpadu-satu, terkadang menimbulkan uap tipis yang segera bergabung dengan embun malam. Semakin jauh mereka masuk ke dalam perkebunan, semakin romantis suasananya.

Sebuah Jerat Pengorbanan Cinta 


Berlibur ke Bali, hampir semua wisatawan mengunjungi pantai, terutama pantai yang memiliki pasir putih dengan pemandangan sunset. 

Pulau Bali memiliki banyak pantai pasir putih dan pantai pasir hitam dan tiap-tiap pantai memiliki keunikan serta  keindahan tersendiri. Lokasi pantai di Bali tersebar hampir disemua penjuru pulau Bali.

Neuron-neuron merangkai dalam minda Anya  untuk membuat strategi apa yang tepat agar bisa mendapatkan cinta  Raditya. Ia  sebelumnya sudah memberi tau Lea dan Dita bahwa ingin pergi jalan sendiri. 


Tepat tengah malam, Raditya berjalan   kembali menuju kamar vila tempatnya menginap. Sesuai rencana, Anya terlebih dahulu sudah bersembunyi di dalam kamar.

Gadis cantik berdarah indo-turk itu sudah sangat hafal kebiasaan Raditya. Sebelum tidur selalu minum air  putih dan menaruh gelas itu di dekat tempat tidurnya.

Air dalam gelas  sudah ia  taburi sesuatu dan tanpa curiga, Raditya meminumnya kemudian langsung  tertidur pulas. 

"Kak maafkan aku..." 

Anya memandangi Raditya dengan tubuh gemetar, detak jantung berdegup kencang. Hatinya bergejolak seperti air mendidih. 

Pakaian sudah berserakan di atas lantai. Udara AC seharusnya dingin, justru menguap panas dalam ruangan. 

Menjadi Milikmu Adalah Kerelaanku 



Demi angin malam dingin menerpa, hari ini aku tengah memilikmu. Secepat kilat merambat bayang keperkasaamu memenuhi minda, dada dan mata. Mendesah resah menatap kesunyian hari, menyembunyikan rindu dari pecundangi dunia.  

Teruntuk pangeranku yang gagah lagi perkasa saat berpelukan. Mempersembahkan paling berharga adalah kerlaanku.

Kak Raditya, sekali saja,... bisa 'kan? Sekali saja lihat aku di sini yang masih saja begitu bodoh menunggu kamu akui. Aku bahkan rela meneteskan air mata darah, karena mencintamu adalah kerelaanku.

Sangat sadar, bukan emas atau permata, apalagi kekayan yang akan aku berikan. Sebab aku hanya punya sekeping hati dan itu  akan aku persembahkkan hingga kita menua renta. 

Kasih, lihatlah dihadapanku telah terbentang sebuah kehidupan yang mampu kuraih dengan hiasan menjadi sesuatu keindahan lagi agung. Sebuah kehidupan  terbangun sejak pertama jumpa di ayunan panti asuhan dulu.

Apa kamu ingat saat aku nangis berebut ayunan dulu, Kak? Sejak hari itu perasaanku tumbuh dan berkembang biak sampai sekarang.

Anya mendaratan pagutan baku hantam bibir dengan air mata terus membanjiri pipi. Segalanya sudah tidak terkendali lagi...

Terjerat Kembang Pikat Mutiara 


"Anya apa yang telah kamu lakukan?" 

Bentak Raditya mendelik mendorong tubuh gadis itu hingga jatuh ke lantai.

"Maafkan aku, Kak." Anya hanya bisa tergugu.
"Kenapa kamu lakukan ini padaku. Kenapa?"
"Aku cinta kamu, Kak," balasnya tegas.
"Aku juga sayang kamu, Nya. Aku menyayangimu seperti adikku sendiri."

Tergesa tangan Anya mengambil pisau di atas meja seperti yang sudah terencanakan. Pisau itu diarahkan pada pergelangan tangannya, siap untuk memutuskan urat nadi.

"Akui cintaku atau Kakak melihatku tiada lagi di dunia ini!"
Anya  menantang, sorot matanya menyala-nyala terbakar. 

"Tenangkan dirimu, Kanya!" 

Raditya memohon dan merasa takut jika wanita didepannya berbuat nekat.

"Apa Kak Raditya mencintaiku?"
"Aku sayang ama kamu, Nya!

"Tidak Kak. Bukan itu jawaban yang ingin aku dengar. Ini pertanyaan terakhir. Apa Kak Raditya mencintaiku?"  Anya menantang dengan mata memerah terbakar.

Ia benar-benar sudah tidak sanggup mengendalikan diri lagi. Entah iblis apa yang membuat akal sehatnya lumpuh dan melakukan hal gila itu.

"Aku cinta kamu, Nya!" 

"Bohong...!! Kak Raditya bohong!"

Anya terjatuh tergugu menangis sejadi-jadinya. Perlahan Raditya mendekat memeluknya  dan merebut pisau dari genggaman tangan gadis  tersesat di persimpangan jalan.

"Kakak gak mau kehilangan dirimu, Nya," bisiknya menenangkan 

Memperjuangkan cinta hingga titik darah penghabisan, aku tak peduli walau hidup harus dalam keterasingan, tak peduli berapa banyak air mata yang tertumpah. Bahkan tak peduli jika nyawa harus terpisah dari raga. Ini benar-benar neraka yang tak dirindukan. Bantin Anya dalam hati. 

"Buktikan kalau Kakak mencintaiku.  Jika tidak Kak Raditya akan melihat jasadku bersimbah darah," acamnya lagi sendu-sedan.

Karena cinta banyak orang ingin hidup selamanya namun tidak sedikit karena cinta pula orang  juga ingin mati secepatnya.

Setiap tetes air mata yang terkorbankan, menjadi begitu berharga saat akhirnya Raditya menuntunnya ke atas ranjang. Kemudian merebahkannya perlahan. 

Anya senang sekali ketika akhirnya  terjalin pagutan begitu dalam dan senyap. Raditya begitu mengalir mengabungkan antara kemarahan dan kerinduan. 

Pada siang aku akan menjadi mentari meski terkadang sinarnya akan menyengat membakar. Pada malam aku akan menjadi rembulan, akan selalu ada dalam hembusan nafasnya. Tekad Anya dalam hati.

"Maafin aku dan terimakasih," bisiknya mesra. Hanya senyum kebahagiaan saat Anya merasakan segalanya mengalir. 

"Miliki aku seutuhnya, Kak. Peluk dan jangan pernah lepaskan untuk selamanya."

"Apa kamu sudah siap?"

Anya hanya memberikan jawaban dengan anggukan. Air matanya yang tertumpah mulai mengering. Perlahan rasa bahagia menjalar dalam hati. 
 
Bersamamu melewati setiap cadas beringas untuk  menghadapi setiap lara yang ada. Membagi suka duka di antara kita berdua untuk selamanya hingga ujung senja. Tak perlu karpet merah sebagai alas kaki, apalagi kuda putih menjemputuku, kamu cukup datang ada untukku disetiap pilu dalam penantian, Kak.  Keluh Anya dalam hati. 

Lantas apa yang akan terjadi?  Next

Daftar Isi Novel Cinta Terlarang 


Indeks link:  


(On Going) 


(On Going) 

Selamat membaca dan jangan lupa bahagia. Bersama Bercerita Bisa dan Terimakasih.

<Sebelumnya > < Selanjutnya >
Bebeb Admin
Bebeb Admin Admin Bebebs Belajar Bersama Bisa Comunity

1 comment for "Jerat Kembang Pikat Mutiara, Cinta Terlarang 2 Episode 9"

  1. Bersamamu melewati setiap cadas beringas untuk menghadapi setiap lara yang ada.

    ReplyDelete