Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Kisah Pilu Perceraian Mama Muda, Balasan untuk Suami Penghianat

Cerita Perceraian Mama Muda Terbaru 




Bercucuran air mata membasahi pipi dan hati kering kerontang. Lantaran kekasih hati melakukan pengkhianatan. Jika menjerit sama dengan melahirkan, sudah mengulit pohonlah wajahku. Pernikahan terbina bertahun-tahun hancur berantakan. 

Dunia bagaikan runtuh, ketika Mas Dani menyodorkan surat cerai itu kepadaku. Baru tiga tahun kebersamaan kami, dengan entengnya dia minta berpisah.

“Apa salahku, Mas? Selama ini aku sudah berusaha menjadi istri yang baik untuk kamu, dan menjadi ibu yang baik bagi Haikal,” cecarku.


Dia melirik Haikal yang berada dalam gendongan, putra semata wayang kami yang baru berusia dua tahun. Bocah kecil itu menangis terus tiada henti. Mungkin dia ikut merasakan sakit hati yang tengah ibunya rasakan.


“Mas ...,” Aku terisak.

Mas Dani tidak bergeming sedikit pun. Hatinya seperti sudah beku dan membatu.


“Maafkan aku, Meisya,” hanya itu potongan kata yang meluncur dari bibirnya.

Menyakitkan, Aku Diceraikan Begitu Saja


Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran Mas Dani. Mengapa baru sekarang dia berniat meninggalkan aku, setelah semuanya sudah kukorbankan.


“Kumohon, tolong kasih tahu di mana letak salahku, Mas. Biar bisa diperbaiki. Aku janji akan selalu menuruti apa yang kamu mau.”

“Semuanya sudah terlambat, Meisya. Aku tidak bisa hidup bersama kamu lagi.”

“Kenapa, Mas?”

“Maafkan aku. Ada wanita lain yang sudah membuatku jatuh cinta dan lebih bergairah dalam menjalani hidup.”

Batin ini menjerit keras mendengar ucapan laki-laki yang kucintai itu. Seperti luka yang disiram cuka, sangat perih dan menyakitkan.

“Siapa dia, Mas?”

“Kamu tidak perlu tahu, Meisya. Karena itu akan membuatmu lebih sakit lagi.”

“Apa aku mengenal dia?”

Mas Dani mendengus kasar, dia meraih koper besar yang ada di samping lemari. Dengan cepat beberapa potong bajunya sudah berpindah tempat.

“Kamu mau ngapain, Mas?”

Dia sama sekali tidak menggubris ucapanku. Semua surat berharga dan perhiasan yang dia belikan saat kami baru menikah, ikut dimasukan ke dalam koper.

“Meisya, setelah kita berpisah rumah ini akan kujual dan uangnya kita bagi dua. Begitu juga semua perhiasan dan barang-barang yang kubeli. Jangan khawatir, kau tetap dapat bagian. Kita bisa memulai hidup masing-masing dan tidak usah saling ganggu.”

Begitu kejam dia melontarkan ucapan itu, tidak sedikit pun rasa belas kasihan terpancar dari wajahnya. Bahkan, darah dagingnya sendiri tidak membuat Mas Dani bersimpati.

“Mas, kamu mau ke mana?” Aku berusaha menghadang langkahnya.

“Kamu hanya punya waktu dua Minggu untuk mengemasi seluruh barang-barangmu. Akan ada orang yang mengambil alih rumah ini.”

“Mas, aku mohon pikirkan lagi. Apa kamu tidak kasihan dengan anak kita?” sambil terisak aku bersimpuh di depan kakinya, tangis Haikal semakin kencang.

“Sudah Meisya! Aku muak dengan semua ini!” ucap Mas Dani, sambil mengusap kasar wajahnya.

“Kamu harus menerima kenyataan,” lanjutnya lagi.

Kejam, dengan sekali gerakan pria bertubuh jangkung itu melepas kakinya dari peganganku. Diri ini jatuh tersungkur.


“Aduuuh ....” keluhku.


Tanpa sengaja kepala ini membentur sudut meja. Darah segar mengalir dari pelipis sebelah kananku. Menetes tanpa henti membasahi wajah Haikal, bercampur dengan air mata yang keluar. Mas Dani sama sekali tidak peduli.

Aku menjerit histeris, melepaskan segala sesak di dalam dada. Luka ini memang perih, tetapi hati ini lebih pedih.

Pagar Makan Tanaman, Ditikung Adik Angkat Sendiri

Panasnya matahari semua orang ikut merasakannya. Panasnya hati aku tanggung sendiri. 

Plaaak!

“Aduuuh ....”


Tamparan keras mendarat di wajah adik angkatku itu. Kebaikan yang aku berikan kepada Rena, ternyata dibalas dengan pengkhianatan  menyakitkan. Jah4n4m. 


“Rena, aku sama sekali tidak menyangka, ternyata engkau yang selama ini menjadi duri di dalam pernikahan kami!” geramku.


Aku tidak bisa menahan diri, rambut panjangnya menjadi sasaran amarah yang ada di hatiku.

Inilah definisi pepatah air susu dibalas air tuba. Karena rasa belas kasihan aku memungut wanita sampah itu dari jalanan. Semua kebutuhannya tercukupi tanpa ada yang kurang. Diberi pendidikan layak dan pekerjaan yang menjanjikan.


Posisiku di kantor rela aku lepaskan demi Rena. Rupanya diam-diam dia menjalin hubungan terlarang dengan suamiku, Mas Dani.


“Dasaar wanita j4l4ng!” teriakku, untuk kedua kalinya tangan ini ingin menyentuh tubuh wanita berusia 25 tahun itu.

Tap!

Tanganku menggantung di udara. Seseorang menahannya. Cengkeraman yang begitu kuat membuat aku kesakitan.

“Mas Dani?” gumamku.

“Meisya, kamu harus menerima kenyataan! Jangan pernah berpikir untuk menyakiti Rena kembali. Karena aku tidak akan tinggal diam,” desis Mas Dani kejam.

“Mas ....” Mata ini memanas.


Tanpa malu Rena menggandeng tangan mantan suamiku. Lengkungan miring di bibirnya memperlihatkan kebusukan hati pada diri wanita murahan itu.


Aku jatuh terkulai. Tangis ini kembali pecah. Seseorang meraih tubuhku.


“Jangan khawatir, aku akan membantu membalas rasa sakit yang ada di hatimu,” bisiknya.

Hari Pernikahan Kedua, Aku Bahagia 


Menghela nafas untuk memenuhi rongga dada, aku menjulurkan kepada kemudian kembali tertunduk. 

“Kamu sudah siap, Meisya?”

“Ehm. Kenapa aku menjadi gugup seperti ini?”

“Kamu harus terlihat kuat dan bersikap profesional.”


Harus  terlihat kuat. Di balik balutan blazer coklat muda dan rok span yang ketat, aku terlihat elegan dan berkelas. Ditambah lagi dengan hells berhak tinggi, semakin menunjang penampilan. 


Sudah lama aku tidak mengenakan pakaian seperti ini. Semenjak Haikal lahir, Mas Dani memintaku untuk resign dari pekerjaan dan mengusulkan Rena sebagai penggantinya.

Tentu saja aku menerima usulan Mas Dani tanpa rasa curiga, karena memang ingin fokus mengurus Haikal. Lagi pula waktu itu Rena belum mendapat pekerjaan yang layak.


Aku sama sekali tidak menyangka kalau sahabatku sewaktu SMA, Jefri Gunawan merupakan putra dari pemilik perusahaan di mana tempat Mas Dani dan Rena bekerja.


Jefri membantuku membalas adik angkat dan mantan suamiku, dengan memberi jabatan sebagai direktur utama di perusahaan itu.


Hari ini adalah hari pertama aku masuk kantor, dan akan ada rapat dengan klien penting. Tentu di sana hadir juga Mas Dani dan sekretarisnya Rena.

Semua mata tertuju saat aku memasuki ruangan itu.

“Pagi, Bu Meisya,” sapa salah seorang pegawai.

Aku melempar senyum membalas sapaannya.

“Meisya-” Mas Dani tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut di wajahnya.

Begitu juga dengan Rena, keduanya seperti merasa tidak nyaman selama meeting.

Pembalasan Itu Kejam, Jenderal! 


Tepat matahari terpancang diumbun-umbun. Langit mengelar cakrawala luas diangakasa. Suasana kantor masih ramai seperti biasanya. 


“Meisya, apa yang kamu lakukan di sini?!” tanya Mas Dani setengah menggertak.

“Jangan kurang ajar, aku adalah pimpinanmu di kantor ini,” desisku, menepis tangannya dengan kasar.

“Tidak mungkin dirimu bisa langsung berada di posisi ini.”


Aku terkekeh mendengar ocehan pria itu.


“Mengapa? Kamu takut? Kudengar di kantor ini ada kabar penggelapan uang. Aku akan menyelidiki siapa yang melakukan itu.”

Wajah Mas Dani langsung pucat pasi, dia berusaha menekanku.

“Aku rasa tidak ada hal yang penting lagi untuk dibicarakan. Silahkan keluar dari ruanganku, sebelum security membawamu keluar secara paksa,” bisikku mengancam.


“Aaah!” Dia memukul meja, dan keluar dari ruanganku.

Memberikan Hukuman untuk Keadilan

Waktu berjalan begitu cepat. Dalam waktu kurang dari dua bulan aku berhasil mengungkap pengkhianat yang ada di perusahaan. Mas Dani dan Rena merupakan dalang dari semua itu, membuat keduanya mendekam di penjara.

“Meisya, tolong aku. Maafkan semua yang pernah kulakukan padamu. Aku janji tidak akan menyakiti kamu lagi. Keluarkan aku dari sini,” pintanya dari balik jeruji besi.


“Semuanya sudah terlambat, Mas. Bukankah itu yang kamu katakan dulu,” ujarku, membalikkan kata-katanya kembali.

“Aku mohon, Mei. Keluarkan aku dari sini.”

“Kamu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu yang sudah mengkhianati perusahaan, Mas.”

“Tidak! Keluarkan aku dari sini!” teriaknya.


Aku tidak memedulikan teriakan Mas Dani. Meski tidak sepenuhnya lukaku  sembuh, tetapi aku merasa puas bisa membalas rasa sakit hati kepada dia dan Rena.


The End

Daftar Isi Cerpen

Indeks Link Cerpen Mama Muda 



Judul: Balasan untuk Suami Penghianat

Autor: Gaurina Putri Amira

Editor : Neng Tyas 


Selamat membaca dan jangan lupa bahagia. Bersama bercerita bisa dan terimakasih. 

Post a Comment for "Kisah Pilu Perceraian Mama Muda, Balasan untuk Suami Penghianat"