Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Terlalu Perih, Gebetanku Ditikung Sahabat Sendiri Cerpen Remaja Menyebalkan

Kumpulan Cerita Cinta Remaja Termanja Ambyar 




Bagaimana tidak menyedihkan? Aku bersusah payah percaya demi persahabatan, tapi yang aku dapatkan hanya pengkhianatan. 

Taukah kamu apa yang paling menyiksa jiwa? Adalah saat sahabat dipercaya ternyata menorehkan luka.

Cintaku Ditikung Comblang Sialan 


Bebebs.com - Masa yang paling indah, adalah saat bunga cinta mulai bermekaran di taman hati. Seisi dunia serasa milik sendiri, yang lain? Numpang.

Begitulah yang dirasakan Adisa, seluruh jiwa raganya terpatri pada sosok Sakha. Cowok ketua OSIS yang membuainya dalam alam mimpi, mimpi untuk terus bersama merajut cinta, hanya berdua saja.

Getar-getar cinta mulai terasa manakala Adisa melihat Sakha menjadi pemimpin upacara, merah merona pipi Adisa dibuatnya.


"Rat, tahu ga sih kalo aku tuh lagi naksir berat sama seseorang," curhat Adisa pada sahabat yang sudah sejak SMP selalu bersama itu, siapa lagi kalau bukan Ratih.


"Tahu, tuh muka merah banget kek kepiting rebus. Emang siapa sih cowok yang udah bikin seorang Adisa tomboi tu klepek-klepek?"


Adisa memang cewek tomboy, sejak SMP selalu berteman dengan cowok. Baginya teman cowok tuh lebih asik, ga baperan dan ga suka nikung. Entahlah, bagaimana Adisa bisa punya pemikiran konyol seperti itu.

Satu-satunya teman yang dekat adalah Ratih, itupun karena ayah mereka berdua kerjanya satu kantor, jadi keluarga mereka juga akrab banget.

"Ntuh, si Sakha ketua OSIS. Kalau lihat dia tuh rasanya adem banget kek rebahan di ubin mesjid."

"Ah kamu ada-ada aja."

"Beneran Rat, darahku berdesir sempurna jadi panas dingin lihat senyumnya ntu loh, uluh-uluh ga kuat aku maaakkk."


"Ga usah lebay gitu napa sih?"
"Eh aku boleh ga minta tolong ke kamu?"


Adisa memasang muka melas, matanya berkedip-kedip seolah memaksa Ratih agar menyetujui permintaannya. Adisa paham, jika Ratih sulit menolak permohonan dengan gaya seperti ini, muka melas tapi hati tertawa riang.


"Apaan?"
"Comblangin aku dong."
"Eh, enggak ya."
"Please ...."


Adisa mengulang aksi bulusnya, memohon berkali-kali tanpa lelah, sebelum sang target mengiyakan.

"Gimana caranya coba?"

Adisa dan Ratih saling berbisik, lalu tertawa bersama. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti Adisa jadi sumringah tak terkira.


Gimana ga sumringah coba? Jika sebentar lagi khayalan-khayalan Adisa bakalan jadi kenyataan.


Selepas Ratih pulang, Adisa masih saja senyum-senyum sendiri manakala membayangkan tubuhnya sedang berada dalam dekapan Sakha, rambut lurusnya dibelai lembut dan wajah mereka berdekatan hingga deru nafasnya terdengar bak melodi indah yang membawa mereka dalam samudera asmara. Lalu ....


"Adisa, cepetan mandi udah sore." Suara teriakan dari tantenya Adisa membuyarkan lamunan.


"Hoe, jangan teriak-teriak napa? Gangguin tauk."
"Eh, dibilangin malah nyolot ya, anak gadis udah mau Magrib belum mandi pamali tau, ntar kagak laku baru tahu rasa."


"Apaan sih Tante, gangguin orang lagi asik juga?"
"Asik melamun? Ngebayangin pangeran berkuda datang menjemput? Dia juga bakalan kabur kalo tau kamu masih bau."


"Rese banget sih."
"Biarin, weeekkk weeekkk."


Adisa dan tantenya memang seumuran, selisih usia yang hanya dua tahun menjadikan mereka enjoy aja berantem tiap hari, tikus dan kucing saja bakalan kalah sama mereka.

Rencana Tinggal Rencana


Hari telah berganti minggu, minggu telah berganti bulan, tapi Adisa belum mendapat kabar apapun dari Ratih. Rencana yang mereka susun sepertinya belum dijalankan oleh Ratih.


Ratih yang sebenarnya tidak mau menjadi comblang bagi Adisa san Sakha itu, memang tidak melakukan apapun untuk Adisa.


Rugi dong nyomblangin mereka berdua, gumam Ratih dalam hati.


"Rat, gimana nyomblanginnya?"
"Belum ada tanda apapun Dis," jawab Ratih.
"Emang kamu udah ngapain aja?"
"Ya itu, sesuai yang kamu mau."


Ratih mulai berkelit, dia tidak siap saat ditanya Adisa. Raut muka yang pucat dan badan gemetar, membuat Adisa heran pada Ratih. Masa sih, ditanya doang udah gemetaran gitu.


"Ini udah sebulan lebih loh."
"Ya gimana dong, susah tahu deketin cowok populer di sekolah kayak dia."


Jawaban seadanya dari Ratih, membuat Adisa cukup geram. Pengen nimpuk sahabatnya itu, tapi ga tega juga, toh Adisa cuma punya satu sahabat, masa iya mau bubar jalan.


"Bukan suruh deketin, tapi comblangin."
"Ye kan harus deket dulu biar bisa comblangin."
"Awas ya kalo macem-macem."


Adisa mulai mengancam karena dibuat tidak nyaman.


"Ya udah, sana deketin ndiri." Ratih kabur setelah berdebat dengan Adisa. Sementara Adisa hanya mampu menggigit bibir menahan amarah.


Adisa mulai kesal, harapannya untuk bisa pedekate sama cowok idamannya tidak kesampaian. Daun-daun yang pernah tumbuh subur dihatinya terpaksa layu dan mulai berguguran, bahkan sebelum mulai berbunga.


Adisa menatap langit, awan yang menggantung jauh diatas sana seolah mengejek, dasar cemen loe. Ah, Adisa makin sebel aja.


Sebenarnya, ada keinginan untuk mendekati sendiri pujaan hatinya, tapi rasa malu sebagai cewek masih menguasai diri Adisa, masa iya sih mau nembak duluan. Kalau diolak macam mana? Mau ditaruh dimana nih muka? Akal waras Adisa tetap menolak untuk pedekate.

Hingga Kebohongan itu Terbongkar


Langit cerah mewarnai siang ini, anak-anak kecil berebut balon dari sabun. Seorang cowok nampak berkali melambaikan stik, sementara balon-balon itu muncul dari ujungnya. 

Lima orang anak berebut menggapai lingkaran bening yang beterbangan tertiup angin. Adisa tersenyum menyaksikan tingkah mereka.

Memorinya merekam kenangan masa silam, saat ia dan Arga sering berebut balon seperti itu. Lima tahun berlalu, Adisa belum bisa mencari pengganti Arga.

Saat itu mereka masih berseragam putih merah, tapi Adisa mulai merasakan getar dalam dada. Rasa yang saat itu terasa aneh, namun sering muncul saat mereka berjauhan, kini Adisa tahu, rasa itu bernama rindu.

Terlalu dini jika Adisa menyebutnya cinta, atau cinta monyet mungkin. Tapi sejak lulus sekolah dasar, Arga bagai ditelan bumi, hilang tanpa meninggalkan jejak.

Bunga-bunga di taman kota bergoyang berirama manakala angin menerpanya, warna-warni bunga bougenvile memukau mata yang memandang.


Hanya Adisa seorang, yang duduk sendirian di tepi taman. Bangku disebelah masih kosong, berbeda dengan bangku lain yang diduduki dua sejoli, muda-mudi yang berduaan menikmati panorama alam.


Adisa tertegun melihat sosok yang sepertinya tidak asing, dari jauh nampak cowok itu mengenakan sweater hitam bergambarkan hati yang digenggam, mirip seperti sweater yang dibeli Adisa untuk diberikan pada Sakha, melalui Ratih.


Ratih tersenyum, ternyata itu benar Sakha dan hadiah yang diberikan dulu, kini dikenakan. Ratih masih punya harapan untuk mendekati Sakha, karena hadiah yang dikenakan itu sebagai salah satu bukti bahwa Adisa bisa diterima dihatinya.


Namun, tunggu dulu, Sakha ternyata tidak sendiri. Ada seorang cewek yang ternyata bersandar dibahunya, dan kini ia duduk sempurna hingga kepalanya sejajar dengan Sakha.

Adisa mulai mengendap mendekati dua makhluk nyebelin itu, hingga benar-benar bisa melihat dengan setengah sempurna siapa dia.

Terdengar suara manja dari sang cewek." Makasih ya sayang, udah mau nemenin aku."


"Iya, sama-sama, asal kamu suka, aku juga suka," jawab Sakha.

Sayang? Cewek itu bilang sayang? Siapa dia? Berbagai pertanyaan menyelimuti hati Adisa. Cewek dengan rambut lurus sebahu itu belum diketahui identitasnya oleh Adisa, tapi suaranya sungguh tidak asing. Seperti ... Ratih, tapi rambut Ratih kan ikal, sementara gadis itu berambut lurus.


Adisa semakin mendekat, hingga terlihat jelas bahwa dua orang itu memang Sakha dan Ratih.


Tubuh Adisa terasa lemas, menyaksikan cowok idamannya berduaan dengan comblangnya. Apalagi saat melihat sweater dan jam tangan yang dipakai Sakha, adalah pembelian Adisa.


Adisa muncul, dan Ratih terperanggah. Genggamannya pada Sakha dilepas, lantas berdiri sambil merapikan pakaian dan rambut yang sebenarnya masih rapi.


"Rat, tambah cantik ya dengan model rambut baru," sapa Adisa, sementara Ratih mengunci mulut.

"Kamu temennya Ratih?" tanya Sakha.
"Dulu sih iya, tapi mulai sekarang enggak."


Adisa berlalu, lantas menoleh sebentar sambil berkata," Dasar comblang sialan."


The end

Daftar Isi Cerpen Remaja 



Judul : Comblang Sialan
Oleh: Beti Atina Hariyani

Selamat membaca dan jangan lupa bahagia. Bersama Bercerita Bisa dan Terimakasih 
betyalope Menulis, adalah sarana saya menyampaikan impian dan berbagi kebaikan.

Post a Comment for "Terlalu Perih, Gebetanku Ditikung Sahabat Sendiri Cerpen Remaja Menyebalkan "