Perihnya Menanti Sentuhan Suami yang Cuekin, Kisah Angela Mawar Hitam Pernikahan Tak Setara yang Bikin Baper dan Menangis Episode 02
Cerpen Romantis Drama Pernikahan
Bebebs.com - Perihnya Menanti Sentuhan Suami yang Cuekin, Kisah Angela Mawar Hitam Pernikahan Tak Setara yang Bikin Baper dan Menangis 😠| Cerpen Romantis Drama Pernikahan
Angela berdiri di dapur luas yang selalu terasa terlalu besar untuk satu orang. Cahaya pagi menyusup lewat jendela tinggi, menyentuh punggung tangannya yang sibuk mengaduk teh jahe hangat. Aroma rempah menyelimuti udara, tapi tak mampu menutupi hawa dingin yang merayap di dada. Ia menyusun nampan dengan teliti: secangkir teh, roti panggang renyah beroles mentega, dan sepotong buah apel yang dipotong rapi. Setiap gerakan diulang seperti ritual, seolah dengan itu ia bisa menjaga sesuatu yang rapuh.
Langkah kaki berat terdengar di koridor. Urya muncul, dasi masih setengah terikat, rambutnya yang mulai memutih disisir rapi. Ia melirik nampan itu sekilas, mengangguk kecil tanpa senyum. Angela merasakan getar halus di ujung jari saat tangannya hampir menyentuh lengan suaminya, tapi ia menahan. Ia hanya tersenyum lembut, membiarkan pria itu duduk di meja makan marmer yang dingin.
"Anak-anak sudah bangun?" tanya Urya sambil membuka koran, suaranya datar seperti biasa.
"Lea dan Ani baik-baik saja. Lea mirip sekali ibunya dulu," jawab Angela pelan. Ia mengamati garis wajah suaminya yang tegang, kerut di dahi yang semakin dalam. Tangan Angela memegang pinggiran meja, kuku-kukunya yang pendek menekan kayu hingga memutih. Ia ingat bagaimana dulu ia berpikir pernikahan ini adalah pintu keluar dari jalanan yang keras. Sekarang, rumah mewah ini terasa seperti kandang emas yang luas dan sunyi.
Urya mengangguk lagi, mata tetap tertuju pada huruf-huruf hitam di koran. Angela mundur selangkah, punggungnya menyentuh dinding dingin. Ia menatap punggung lebar suaminya yang semakin membungkuk oleh usia dan pekerjaan. Di balik senyum yang ia paksa, ada gelombang yang mendesak naik ke tenggorokan. Ia menelan ludah, berbalik ke wastafel, dan membiarkan air mengalir deras untuk menyembunyikan suara napas yang tersengal.
Siang itu, Angela membersihkan kamar Lea dan Ani. Boneka-boneka berjajar rapi di rak, baju sekolah dilipat dengan sempurna. Lea, gadis kecil yang pintar, tiba-tiba memeluk pinggangnya dari belakang. "Mama Angela, kenapa mata Mama merah?"
Angela berlutut, menyeka pipi gadis itu dengan ibu jari. "Hanya debu, sayang. Mama senang kalian ada di sini." Suaranya mantap, tapi tangannya gemetar saat membelai rambut Lea. Ani, adiknya yang lebih kecil, datang berlari dengan tawa renyah, menarik tangan Angela ke taman belakang. Mereka bermain ayunan, angin sore mengibarkan rok Angela yang sederhana. Tawa anak-anak itu seperti tetes air di padang kering, tapi tak cukup membasahi seluruh jiwa.
Malam menjelang. Angela duduk di tepi ranjang king-size yang jarang terasa hangat. Ia menggosok tangannya yang lelah, memandang pintu kamar yang tertutup. Jam dinding berdetak lambat. Ia ingat malam-malam sebelumnya: suaminya pulang larut, mandi cepat, lalu membalikkan badan dan tidur dengan dengkuran pelan. Angela menyentuh bantal di sisinya, merasakan kain dingin yang tak pernah menyimpan jejak pelukan panjang.
Ia bangkit, berjalan ke jendela, dan menatap lampu kota yang berkelap-kelip jauh di bawah. Tangan kanannya memeluk tubuh sendiri, seolah mencoba menggantikan pelukan yang tak datang. Air mata mengalir pelan di pipi tanpa suara. Ia tak mengusapnya. Biarkan saja. Malam ini, kesunyian terasa seperti pisau tumpul yang terus menggores tanpa henti. "Apakah aku hanya bunga hitam yang dipungut di pinggir jalan?" bisiknya dalam hati, kata-kata itu menggema seperti lagu pilu yang tak pernah selesai.
Keesokan paginya, hujan deras membasahi halaman. Angela berdiri di beranda, syal tipis membungkus bahunya. Urya keluar dengan payung hitam besar. Ia berhenti sejenak di samping Angela, lebih dekat dari biasanya. Angela bisa mencium aroma aftershave yang familiar, campur bau hujan. Jantungnya berdegup kencang, tapi ia tak bergerak.
"Tadi malam... aku dengar kau menangis," kata Urya tiba-tiba. Suaranya rendah, hampir hilang ditelan deru air.
Angela membeku. Ia menoleh pelan, mata mereka bertemu untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu. Mata suaminya tak lagi datar; ada keraguan di sana, seperti seseorang yang baru sadar ada retak di dinding rumahnya sendiri.
"Aku baik-baik saja," jawab Angela, suaranya hampir hilang. Tapi tangannya meraih ujung lengan jas suaminya, hanya sedetik, sebelum melepaskan lagi.
Urya tak langsung pergi. Ia mengulurkan payung, membiarkan Angela ikut ke mobil di bawah satu atap. Di dalam mobil yang hangat, Angela menatap tetes air yang mengalir di kaca jendela. Ia merasakan kehangatan tangan suaminya yang menyentuh punggung tangannya sebentar, ragu-ragu, seperti mencoba mengingat cara menyentuh sesuatu yang rapuh.
Sepanjang hari, Angela bekerja dengan hati yang lebih ringan. Ia memasak sup favorit anak-anak, membersihkan foto-foto lama di ruang tamu. Dalam salah satu bingkai, ia melihat dirinya di hari pernikahan: gaun putih sederhana, senyum yang dipaksakan, dan Urya berdiri kaku di sampingnya. Angela menyentuh kaca dingin itu dengan ujung jari, merasakan denyut harapan kecil yang mulai tumbuh.
Malam itu, Urya pulang lebih awal. Ia tak langsung ke kamar. Ia berdiri di dapur, melihat Angela yang sedang mencuci piring. Air sabun menetes dari tangan Angela, bahunya sedikit membungkuk karena lelah. Urya mendekat dari belakang, tangannya yang besar dan kasar menyentuh bahu Angela dengan lembut.
"Maaf," katanya pelan, napasnya hangat di telinga Angela.
Angela berhenti. Piring di tangannya hampir jatuh. Ia membalikkan badan perlahan, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia membiarkan air mata mengalir tanpa ditahan. Urya menariknya ke dalam pelukan, lengan kokoh itu membungkus tubuh Angela yang gemetar. Bau kemeja suaminya bercampur keringat dan parfum, tapi terasa seperti rumah.
Mereka berdiri lama di dapur yang terang, hujan masih deras di luar. Angela merasakan detak jantung suaminya, ritme yang lambat dan mantap. Ia tak perlu kata-kata panjang. Cukup kehangatan ini, sentuhan yang lama dinanti, yang menyembuhkan luka-luka kecil yang tak terlihat.
Di kamar, nanti malam, Angela berbaring di samping suaminya. Tangan Urya mencari tangannya di bawah selimut, meremas pelan. Angela menatap langit-langit, senyum kecil muncul di bibirnya. Bukan akhir dari segala perih, tapi awal dari sesuatu yang baru. Seperti mawar hitam yang akhirnya disentuh sinar matahari, pelan-pelan mekar meski bekas duri masih terasa.
Ia memejamkan mata, napasnya tenang untuk pertama kalinya. Di luar, hujan reda, meninggalkan udara segar yang penuh harapan.

Post a Comment for "Perihnya Menanti Sentuhan Suami yang Cuekin, Kisah Angela Mawar Hitam Pernikahan Tak Setara yang Bikin Baper dan Menangis Episode 02 "
Disclaimer: Semua isi konten baik, teks, gambar dan vidio adalah tanggung jawab author sepenuhnya dan jika ada pihak-pihak yang merasa keberatan/dirugikan silahkan hubungi admin pada disclaimer untuk kami hapus.