Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mawar Hitam Berlumpur: Pulang ke Tomohon, Air Mata yang Tak Pernah Kering Episode 03

 



Film Romance - Taukah kamu apa yang paling menyiksa sebagai seorang anak perempuan? Adalah kenyataan tak lagi mampu menyebut nama mamanya berulang-kali. 

Jangankan memangil, “Mama”? Apalagi mendoakan yang terbaik pada Sang Maha Pencipta. Mendengar nama itu, Angela dadanya sesak sulit bernafas. 

 Sebagai seorang putri terakhir paling dimanja dalam keluarga, wanita cantik Minahasa itu telah terlalu banyak menyakiti kedua orang tuanya. Terutama mamanya. 


Angela berjalan perlahan menuju kolam renang di lantai atas rumah yang berdinding dengan cat berwarna putih lembayung. 


Bibirnya kesemutan, ingatan tentang kolam renang membawanya kembali pada masa masih seorang anak remaja berusia lima belas tahun. Di usia penuh emosi itu ia bertengkar berat dengan orang tuanya, pada lelaki yang pernah menampar Angela hingga memar berminggu-minggu. Hanya mamanya yang selalu membelanya. 


Bahkan rasa sakit seolah masih terasa jelas bekas tamparan papanya di pipi Angela, ia kini juga seorang mama juga orang tua untuk kedua purtrinya Lea dan Anni. 

Dinding bisu menjadi saksi seoarang anak perempuan remaja yang jiwa memberontaknya tidak terkendali. 


“Setiap ingat tentang Mama sakit dihati ini sangat teramat dalam. Seandainya dulu aku tidak terjerumus pergaulan bebas mungkin tidak akan kehilangan Mama dan Papa.”


Bercucuran air mata Angela menyimbahi pipi, sedih nyesek. Kenangan jahat masa lalu itu kembali menghampiri. Kini, bahkan Lea anak perempuan yang diasuhnya sejak bayi. Sudah sering mulai memberontak. 

“Gina. Putrimu Lea mirip sekali denganmu. Tidak peduli apapun yang terjadi aku akan menjaganya seperti putri kandungku sendiri.”

 





Benarkah itu hukum karma ada ataukah memang semesta sedang bercanda. Setidaknya Angela masih bersyukur memiliki Lea dan Anni, putri-putri cantik pelipur lara. Juga suaminya. 


“Sayang.” 


Entah semenjak kapan Urya sudah ada disampingnya.

Angela berbalik, “Bikin jantungku mau copot saja.” Suaranya gemetar. 


Tubuh perempuan itu mulai menggigil tidak terkendali. Tatapan tangis mamanya mulai meranggas. Angela merindukan mamanya. 


“Menangislah sepuasnya.” 


Urya memeluknya. Pria Surakarta itu tau kepedihan sang istri. Ia sendiri pernah mengalami perihal yang sama. 


“Bagaimana aku bisa memaafkan diriku sendiri? Seumur hidup aku telah mengecewakannya.” 


Tubuh wanita cantik itu mulai merasa dingin—amat terkokol-kokol. Sekuat tenaga memaksakan kedua maniknya untuk menatap Urya. Berharap menemukan sedikit ketenangan di sana. 


“Sayang aku akan cuti kerja. Besok kita pulang ke Tomohon. Aku juga kangen makan pisang goreng dengan sambal di Malalayang.”


Urya berhenti sesaat menghela nafas, menatap jauh di atas langit biru. Suara tangis Angela semakin menjadi. 


“Tetap saja ….” 


Wanita itu tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Satu persatu kenangan masa kecil mulai merangkai koneksi membentuk visual yang teramat jelas dalam minda. 

Mamanya dulu yang selalu menggendong Angela kecil. Mamanya juga yang selalu ditunggu pulang membawakan jajanan saat pulang dari pasar. Mamanya pula setiap minggu membawanya ke gereja. 

Sedangkan papanya yang mendidik Angela menjadi wanita tangguh dan keras kepala. 


Meski kini Angela pindah keyakinan, tapi didikan kedua orang tuanya tidak bisa dilupakan. Terutama kasih sayang mamanya. 


“Setiap orang akan memikul salibnya sendiri. Tapi ingatlah Mukjizat Tuhan itu Nyata.”


Angela teringat kata-kata mamanya dulu. Sayangnya kehidupan tidak seindah karya fiksi dan dongeng para pengotbah. Ia terjerumus dalam kegelapan menjadi mawar hitam berlumpur di tepi jalan. Urya memungutnya menaruh mawar hitam itu di atas meja kerjanya. 

Sering Angela merasa menjadi pajanangan. 

Itukah resiko menikahi pris kaya lebih tua?

 Sebagai perempuan punya hati, punya rasa hidupnya seperti burung cantik di sangkar emas. 

Dulu saat masih di dunia malam, segalanya diukur dengan uang. Mungkin benar jika uang itu adalah setan? Jangankan manusia iblis 'pun seolah bisa dibeli dengan uang. 

Paling tidak kini Angela bisa merasakan kehangatan kasih sayang suaminya. Walaupun tidak romantis tapi Urya adalah pria yang kini sangat dicintainya. 

Dunia malam perbedaan hitam dan putih seperti benang tipis. Rezeki kadang dibagi-bagi sama rasa sama rata. Saat mendapatkan pria kaya persaingan semakin sengit. Itu yang pernah Angela alami dengan Gina mama kandungnya Lea. 

Habis gelap terbitlah terang Angela tidak mau kedua putrinya mengalami perihal sama seperti dirinya. 

Adakah manusia yang sempurna di dunia ini? Jawab. Semua dari kita pasti punya kesalahan. Sedangkan sebaik-baik orang bersalah adalah mencoba memperbaikinya. 

Angela menyadarkan kepalanya di bahu Urya. Esoknya mereka terbang ke Manado

Tepat matahari mendepak bumi di pemakaman Kristen, warna hitam baju mereka menghiasi kepedihan hati Angela yang kian mengangah. Urya berdiri dibelakangnya. 

“Mama... Papa.... Aku pulang.” Angela menaruh bunga di depan dua batu orangtuanya. 


Seperti biasa sangat klise, langit berkonspirasi dengan mendung yang kemudian menggulung gelap pekat. Bergelegar kilatan petir memotret peristiwa menyedihkan itu dari angkasa.


Angela masih saja berdiri mematung memandangi kedua batu nisan, mama dan papanya kini telah damai di alam kebadaian.


“Maafkan aku, Ma. Maafkan aku...” Minda Angela tersentak. Susah payah ia mencoba menepis nostalgia kebersamaan mereka dulu. 

Butiran-butiran bening dingin mulai jatuh dari langit membasahi tubuh bersama derasnya hujan.

“Sayang kamu perempuan hebat. Lea dan Anni menunggu kita di Jakarta.”

Urya berusaha mencoba membujuk pulang sang istri. 

Angela mungkin dianggap banyak orang, sebagai mawar hitam berlumpur. Tapi semua itu sudah menjadi kenangan. 

Masa lalu tidak bisa dirubah, masa depan selalu ada harapan. Kematian lebih ringan dari pada sehelai rambut dan tanggung jawab lebih berat dari pada kehidupan. 

Hidup adalah pilihan dan setiap pilihan selalu punya konsekuensi dan harus siap bertanggung jawab dengan segala sebab akibatnya. 


Sungguhpun demikian, sebuah biji hanya akan tumbuh jika ada kegelapan. Bahkan sebagian jamur hanya bisa bertahan hidup dalam kegelapan tanpa cahaya.


Angela tidak kuasa menahan perih. Ribuan belati menghunus jiwanya tanpa perasaan. Kedua kaki Angela tidak lagi mampu menahan berat badannya yang kemudian hampir saja jatuh ke bumi sebelum akhirnya Urya menangkap tubuh perempuan itu.

“Aku dulu pernah kehilangan Mama. Kini tidak akan kubiarkan itu terjadi lagi. Karena sekarang aku juga seorang mama.”

Urya membopong istrinya yang sudah tidak sadarkan diri menuju mobil. Kadang semesta memang suka bercanda tidak lucu sama sekali. 


Tuhan tidak melihat ijazah anak manusia. Sedang dinilai adalah bekas luka yang disembuhkan. Karena itu dijadikan percobaan dirahasiakan. Dari bekas luka itu yang disembuhkan itulah akan mampu meraih apa yang diimpikan.

Bebeb Admin
Bebeb Admin Admin Bebebs Belajar Bersama Bisa Comunity

Post a Comment for "Mawar Hitam Berlumpur: Pulang ke Tomohon, Air Mata yang Tak Pernah Kering Episode 03"