Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Gara-Gara Jatuh Cinta di Surabaya: Sistem Saraf Angela Lepas Kendali – Cerita Romantis Mawar Hitam Berlumpur 04

 



Angela duduk sendirian di teras belakang rumah sambil memegang secangkir teh hangat yang mengepul. Senyumnya muncul tiba-tiba, lalu menghilang tanpa jejak. Matanya menerawang jauh ke langit sore yang mulai jingga. Kenangan mawar hitam berlumpur di Surabaya kembali menghantuinya, membuat sistem sarafnya seolah lepas kendali.

Semua dimulai dari pertemuan tak terduga itu. Angela, yang dulu dikenal sebagai wanita penuh semangat dan pemberontak, kini menjalani peran sebagai istri Urya dan ibu tiri bagi Lea, putri almarhum sahabatnya Gina. Pertemuan di Surabaya menjadi titik balik hidupnya. 

Saat itu, Urya memperkenalkan diri dengan nama Bayu untuk menyembunyikan identitasnya. Di bawah guyuran hujan deras, Angela membawa mawar hitam yang akhirnya berlumur lumpur. 

Simbolis sekali—cinta yang indah tapi penuh tantangan kehidupan nyata.

“Mom, kamu aneh banget dari kemarin,” tegur Lea sambil memakai sepatu sekolah. Gadis remaja itu melirik ibu tirinya dengan curiga. “Senyum sendiri, melamun, terus pelukannya kok beda?”

Angela tertawa kecil, berusaha menyembunyikan kegugupannya. “Mama cuma ingat pertemuan pertama dengan Papa di Surabaya, Sayang. Dulu Papa pakai nama Bayu. Pertemuan itu mengubah segalanya.”

Lea mengangkat alisnya. “Jatuh cinta ya, Mom? Kok kayak orang gila sendiri?”

Pertanyaan polos itu membuat Angela tersenyum getir. Ya, ia memang merasa seperti orang gila. Gara-gara jatuh cinta, hormon oxytocin menguasai tubuhnya. Hormon pelukan ini membuatnya cemas berlebihan, bahagia tanpa alasan, dan ingin memeluk orang-orang tercinta lebih erat dari biasanya. Ia ingat bagaimana dulu ia sering memberontak terhadap ibunya sendiri. 




Kini, melihat Lea yang mulai menunjukkan sikap pemberontak, Angela merasa sedang melihat bayangan dirinya di masa lalu.

“Sebagai mama, aku harus lebih sabar,” gumam Angela dalam hati. Meski bukan ibu kandung, ia mencintai Lea seperti anak sendiri. Posisinya sebagai ibu tiri sering membuatnya ragu. Apakah ia cukup baik? Apakah Lea bahagia?

Sore itu, Urya pulang lebih awal dari biasanya. Begitu masuk rumah, ia langsung merasakan aura berbeda dari istrinya. Angela memeluknya lebih erat, lebih lama, seolah takut kehilangan. “Ada apa hari ini? Pelukannya beda,” goda Urya sambil tersenyum.

Angela menyandarkan kepalanya di dada suaminya. “Gara-gara Surabaya. Kenangan mawar hitam berlumpur itu kembali muncul. Aku cemas, Urya. Takut jatuh cinta ini membuat segalanya berantakan lagi.”

Urya mengusap punggung istrinya dengan lembut. Ia tahu perjalanan mereka penuh liku. Pernikahan yang tak selalu dipahami orang lain, tanggung jawab besar sebagai ayah sekaligus suami, serta bayang-bayang penyesalan masa lalu. Tapi cinta mereka seperti akar yang kuat—tetap bertahan meski diterpa badai.

“Jatuh cinta memang seperti itu,” kata Urya pelan. “Hormon membuat kita gila, tapi juga membuat kita merasa hidup. Aku juga merasakannya setiap hari bersamamu.”

Malam semakin larut. Lea pulang sekolah dan melihat kedua orang tuanya sedang berpelukan di ruang tamu. Ia pura-pura cuek, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. “Mom, Dad, aku lapar nih,” katanya sambil meletakkan tas.

Angela segera beranjak ke dapur, memasak makan malam favorit keluarga. Saat mereka makan bersama, suasana hangat menyelimuti meja makan. Angela memperhatikan Lea yang sedang tumbuh menjadi gadis cantik dan mandiri. “Lea mirip sekali dengan Gina,” pikirnya. Sahabatnya yang telah tiada pasti bahagia melihat putrinya sekarang.

Setelah makan malam, Angela duduk di tepi ranjang Lea. “Mama minta maaf kalau kadang terlalu cerewet. Mama bukan ibu kandungmu, tapi Mama menganggap kamu anak Mama sendiri.”

Lea terdiam sejenak, lalu memeluk Angela. “Aku tahu, Mom. Kamu luar biasa.”

Air mata Angela hampir jatuh. Kata-kata sederhana itu cukup untuk membuat hatinya tenang. Malam itu, ia berbaring di samping Urya sambil bercerita panjang lebar tentang gejolak hatinya. “Aku seperti mengalami obsessive compulsive disorder yang menyenangkan. Senyum sendiri, cemas sendiri, pelukan terlalu erat. Semua gara-gara jatuh cinta di Surabaya.”

Urya tertawa pelan. “Dan aku bersyukur kamu jatuh cinta padaku. Karena aku jatuh lebih dalam.”

Keesokan paginya, Angela bangun dengan hati yang lebih ringan. Ia memeluk Lea lebih erat sebelum gadis itu berangkat sekolah. “Hati-hati di jalan ya, Nak. Mama sayang kamu.”

Lea balas memeluk. “Aku juga sayang Mom.”

Saat Urya berangkat kerja, Angela berdiri di pintu sambil melambai. Sendirian di rumah, ia membuka album foto lama. Foto pertemuan di Surabaya, mawar hitam yang berlumur lumpur, senyuman Urya yang pertama kali membuat jantungnya berdegup kencang. Semua terasa begitu nyata.

Ia menyadari bahwa jatuh cinta bukan hanya tentang kupu-kupu di perut atau pelukan hangat. Ini tentang pengorbanan, penyesalan yang diubah menjadi pelajaran, dan keberanian menghadapi masa depan bersama. Sebagai seorang perempuan, ia belajar menyeimbangkan peran istri, ibu tiri, dan dirinya sendiri.

Angela menulis di jurnal pribadinya: “Hormon cinta memang membuat sistem saraf lepas kendali. Tapi di tengah kekacauan itu, aku menemukan kedamaian yang sesungguhnya—bersama keluarga yang kucintai.”

Di akhir pekan, keluarga kecil itu pergi ke pantai. Angela berdiri di tepi ombak sambil memegang tangan Urya dan Lea. Angin laut menerbangkan rambutnya. Ia merasa semesta sedang bermain dengan hatinya—permainan tak terduga yang penuh emosi, tapi juga penuh keindahan.

“Terima kasih telah menangkapku saat jatuh,” bisik Angela pada Urya.

“Dan terima kasih telah jatuh bersamaku,” balas suaminya.

Mawar hitam berlumpur itu kini mekar lebih indah. Meski ada lumpur kehidupan—penyesalan, pengorbanan, dan ketakutan—cinta mereka tetap kuat dan abadi.

Cerita Angela adalah pengingat bagi siapa pun yang pernah jatuh cinta: kadang sistem saraf memang lepas kendali, tapi itulah yang membuat hidup terasa berwarna. Lanjutan perjalanan mereka masih panjang, penuh harapan dan pelajaran baru. 

Next

Bebeb Admin
Bebeb Admin Admin Bebebs Belajar Bersama Bisa Comunity

Post a Comment for "Gara-Gara Jatuh Cinta di Surabaya: Sistem Saraf Angela Lepas Kendali – Cerita Romantis Mawar Hitam Berlumpur 04"