Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cerita Romantis, Aku Hanya Cemburu

Cerpen Romance, Akibat Cemburu Buta 



Bebebs.com - Berkali-kali dering ponsel Dika berbunyi dengan nada agak panjang, pertanda ada panggilan masuk. Shereena merasa kesal mendengarnya. Bukan hanya kali ini saja hal ini terjadi. Berulang kali, bahkan setiap dia dan kekasih tercintanya itu jalan berdua, selalu saja panggilan dari Roby, sahabat dekat kekasihnya itu muncul.


Kenapa sih dia selalu saja mengganggu? Ada saja alasan Roby untuk menelpon Dika. Ngajak main bareng lah, nitip beli sesuatu lah. Ah, kesal Shereena mendengarnya. Bagi Shereena sahabat kekasihnya itu telah memanfaatkan Dika dan tentu saja mengganggu acara ngedate mereka.

Sudah Berdandan Rapi 


Sudah sejak pagi, Shereena berdandan rapi untuk menyambut kedatangan kekasih hatinya. Malam minggu ini rencananya akan mereka lewati bersama dengan menonton film di Blitz PVJ. Mereka janjian ketemuan pukul 02.00 siang. Untuk memastikan riasan wajahnya sudah rapi atau belum, Shereena kembali mematut dirinya di depan cermin. Suara notifikasi bernada pendek tanda pesan WhatsApp masuk, menghentikan kegiatan Shereena.

"Itu pasti dari Dika"
, pikirnya.


Dengan semangat, perempuan berambut panjang lurus, yang kini tengah dikuncir kuda itu meraih ponsel dari atas meja rias. Benar saja dugaan perempuan cantik itu. Dika mengiriminya sebuah chat lumayan panjang. Isi pesan itu seketika saja sukses merusak mood-nya.


"Sayang, maaf, sepertinya acara nonton kita dicancel, ya, hari ini. Soalnya, Roby barusan telepon. Dia minta diantar ke PMI. Maaf, Honey, acaranya mendadak, jangan marah, ya. Aku janji, besok aku pastikan, kita jadi nonton. Nggak akan ditunda lagi. I love you so much."


Shereena membanting ponsel di tangannya ke atas kasur. Betapa kesalnya perasaan dia. Lagi-lagi Roby, Roby, dan Roby. Lelaki jomlo itu yang selalu jadi pengganggu di setiap acara ngedate mereka. Bukan sekali ini saja Dika membatalkan janji temu mereka dan alasannya selalu saja karena satu sosok itu. Roby.


"Pokoknya, besok aku harus membicarakan hal ini ke Dika. Ini nggak bisa dibiarin terus-terusan begini. Lebih penting mana, sih, aku dan sahabatnya itu? Sebel, deh! Makan hati terus-menerus seperti ini, bisa-bisa badanku kurus kering," gumamnya geram. 


Perempuan itu mengusap kasar riasan wajahnya dengan tissue basah, lalu membuka tali pengikat rambut, hingga rambut ekor kudanya, kini tergerai berantakan. Penampilan Shereena sama hancurnya dengan perasaannya saat ini. Untuk ke sekian kalinya, gagal total sudah janji temunya dengan Dika.

Emosinya telah naik mencapai ke ubun-ubun. Makan seblak pedas level super maksimal enak, kali, ya, buat pelampiasan. Perempuan itu mendengkus kesal, lalu ke luar kamar, menuju kedai seblak di pinggir jalan seberang gang rumahnya.

Hati Terlanjur Kecewa 


Esoknya, Shereena sudah tak merasa seantusias kemarin menantikan kedatangan kekasihnya. Mau datang syukur, nggak pun, tak peduli. Begitu kira-kira ungkapan hatinya. Pikiran dan hati Shereena masih kesal dengan kejadian ditundanya acara ketemuan kemarin. Dia berdandan seadanya saja. Ditambah lagi, di luar hujan turun semakin deras. Waktu sudah menujukkan pukul 03.00, padahal, Dika berjanji akan menjemputnya paling lambat pukul 02.00. Shereena meyakini, kali ini Dika akan kembali menunda ngedate dengan menggunakan hujan deras sebagai alasannya.

"Dia tak akan datang lagi", gumamnya lirih sembari memandangi titik-titik air hujan yang menempel di jendela kamarnya.


Tepat pukul 03.30 terdengar bunyi ketukan pintu kamar Shereena diringi suara lembut Mama.


“Sayang, di luar ada Dika tuh."
“Iya Ma, bentar lagi aku keluar.”



Shereena tersenyum sinis. Hmmm, inilah saatnya dia meluapkan kekesalan tentang sahabat kekasihnya itu. Harus, dia harus membahasnya!


Ketika sudah sampai di ruang tamu, Shereena melihat kekasih tercintanya itu basah kuyup. Tangan kanan Dika menggenggam setangkai mawar pink, dan di tangan kirinya memegang sekotak cokelat.

"Ya, ampun, Dika. Dia memang selalu bisa meredam amarahku." 
Shereena memandang iba kekasihnya.


"Maafin aku kemarin, ya, Sayang," ucap Dika sembari berlutut di hadapan Shereena.


Perempuan cantik itu menjadi tak tega meluapkan kekesalan hatinya. Emosi yang sejak kemarin-kemarin dipendamnya, menguap entah ke mana. 

Keromantisan yang ditunjukkan sang kekasih, membuat amarahnya menghilang, berganti dengan rasa haru yang tiba-tiba saja menyeruak. Shereena bergegas mengambil handuk dan membuatkan secangkir cokelat panas untuk kekasih hatinya itu.

Antara Cemburu dan Heran 


Senin ini Shereena tak pergi kemana-mana. Selain pembagian raport di sekolahnya sudah selesai, pekerjaan administrasi guru pun sudah ia rampungkan sejak satu minggu yang lalu. Shereena libur mengajar sampai tanggal 11 Januari. 

Dika, sang kekasih tersayangnya barusan mengiriminya chat WhatsApp dan mengabarkan bahwa dia sedang sibuk mengerjakan tugas operator di sekolah tempat Dika mengajar. Dilanda rasa bosan, Shereena mulai membuka ponsel dan masuk ke akun facebooknya. Tak terasa, sudah 1 jam lamanya dia berselancar di facebook, tetapi, tak ada satu pun hal yang seru atau pun menarik perhatiannya selama dia mejelajahi laman salah satu jejaring sosial yang penggunanya bejibun di seantero dunia.


Ketika dia hendak ke luar dari akun facebook-nya, tiba-tiba matanya tertuju pada menu bagian orang yang mungkin anda kenal. Dari sekian banyak profil yang muncul, nama akun facebook Dika Part II lah yang menerbitkan rasa penasarannya.

 Apalagi, saat melihat foto profil kekasihnya berdua dengan Roby, Shereena semakin merasa heran, seraya mengerutkan dahinya.

"Kenapa Dika nggak pernah cerita punya akun ini?"


Jemari lentiknya mulai menekan nama itu dan membuka akunnya. Shereena merasa sangat terkejut ketika membuka akun itu. Di wall akun itu lebih banyak lagi foto-foto Dika sedang berpose dengan Roby. Sejumlah tanya mulai berkecamuk dalam benaknya.


"Ada apa ini? Apa mereka menyembunyikan sesuatu?"


Terbayang di benak Shereena kedekatan Dika dengan Roby. Roby yang selalu lebih tahu tentang Dika dibanding dia. Roby yang selalu menelepon Dika dan mengganggu setiap kali dia dan kekasihnya bertemu. Shereena bergidik ngeri. Pikiran buruk mulai menyergap benaknya.


Apa mungkin kekasihnya dan Roby punya hubungan lain selain sekadar sahabat? Mengingat Roby sampai seusia ini belum punya kekasih. Terbayang juga Dika yang selalu perhatian terhadap Roby. 


Apa pun yang Roby suruh selalu Dika turuti. Kerap kali Dika malah lebih mendengarkan apa kata Roby dibanding kata-katanya dan Dika lebih sering mementingkan Roby daripada dirinya. 

Mendadak kepala Shereena terasa berputar memikirkan hal ini. Perempuan cantik itu berkali-kali menghirup dan mengembuskan napas, berusaha meredakan perasaan tak nyaman yang semakin menyelimutinya.

"Besok aku harus membicarakan hal ini ke Dika. Kamu harus kuat, Sher. Ingat, jangan gampang luluh oleh sikap romantisnya."


Setelah ke luar dari akun facebook-nya, Shereena segera menelepon Dika.


“Dik, besok temui aku di Cafe langganan kita. Ada yang ingin aku tanyakan.”

Mencari Kebenaran 


Sudah sejak pukul 11.00 siang Shereena dan Dika berada di Wiki’s Cafe Braga. Mereka duduk berhadap-hadapan tanpa saling bicara. Perempuan itu sedari tadi hanya mengaduk-aduk minuman yang telah dipesannya dengan sedotan sambil memasang wajah serius, tanpa melihat ke arah Dika. Sementara, Dika sejak tadi mengamati kekasihnya yang hanya diam mematung hingga mengundang sejumlah tanya dalam benak lelaki itu.


"Ada apa, sih, Sayang? Kok, kayaknya serius banget? Apa yang mau dibicarakan? Soal acara lamaran aku ke keluargamu? Pasti‐lah, Sayang. 2021. Tunggu aja.” Suara Dika memecah keheningan di antara mereka, seraya memberi tambahan kedipan mata. 

Hal ini membuat Shereena bergidik, saat kembali terlintas di benaknya akun facebook rahasia antara Dika dan Roby yang tak sengaja dia temukan.

“Bukan masalah itu, Dik.”

Shereena mengeluarkan ponsel dari dalam tas selempang kulit berwarna cokelat berukuran kecil miliknya lalu menunjukkan akun facebook Dika yang dia temukan kemarin.


“Ini maksudnya apa, Dik. Kenapa kamu nggak pernah cerita punya akun ini.  Sebenernya kamu dan Roby itu hubungannya seperti apa, sih. Kenapa kamu lebih perhatian sama dia daripada sama aku.  Kenapa di setiap kita ketemuan dia selalu mengganggu. Kenapa kamu selalu lebih mementingkan dia daripada aku? 

Kamu sering membatalkan ketemuan kita karena dia. Kamu selalu lebih mendengarkan kata-kata dia daripada aku. Jadi sebenernya lebih penting mana aku dan dia?  Jangan-jangan kamu dan dia ....”


 Usai membombardir sang kekasih dengan luapan emosi yang telah lama dipendamnya, Shereena tak dapat lagi menahan tangis. Kedua pipi mulusnya kini telah banjir air mata.


Tetap memperlihatkan sikap tenang, lelaki berambut model undercut dan bercambang tipis itu mengambil ponsel dari tangan kekasihnya, kemudian mulai melihat akun yang ditunjukkan Shereena.


“Sayang, mungkin itu Roby sendiri yang membuatnya sebagai tanda persahabatan aku dan dia." Dika meraih jemari Shereena dan menggenggamnya.


"Bukankah kita sudah lebih dari 3 tahun membina hubungan ini. Kamu, kan, orang yang paling tahu, aku ini seperti apa. Sayang, aku pasti jujur bicara padamu kalau ada apa-apa. Selama ini aku tak pernah menyembunyikan apapun darimu, bukan? Segala hal, apa pun itu, aku pasti cerita ke kamu." Jemari Dika mengusap lembut air mata Shereena.



Shereena menepis jemari Dika yang mendarat di pipinya. Perempuan itu masih belum bisa mengendalikan emosinya.


"Kamu bisa berpikir begitu! Bagaimana dengan perasaan Roby? Dalamnya hati orang, siapa yang bisa menyelami? Apalagi, dia belum punya pacar!"


Dika menghela napas berat. Kemudian kembali menggenggam jemari kekasihnya.


"Soal kedekatan aku dengan Roby, kami bersahabat sejak kecil. Keluarga kami akrab satu sama lain. Aku dan dia sudah seperti saudara. Sayang, kami masih lelaki normal dan akan selalu begitu."

Shereena menatap wajah Dika, memastikan kejujuran ucapan kekasihnya. Manik mata keduanya sekilas beradu. Perempuan cantik itu memalingkan pandangan. 


Sebelum ucapan Dika terbukti benar, Shereena bertekad tak akan semudah itu luluh. Namun, kali ini, dia membiarkan kedua jemarinya berada dalam genggaman lelaki itu.


"Maaf kalau aku memang sering mengabaikanmu karena kesibukanku dan maaf kalau aku selama ini tak memperhatikan kata hatimu juga keinginanmu. Sekali lagi maaf, Sayang. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Bila memang persahabatan aku dan Roby membuatmu merasa tak nyaman, aku akan menjauhinya. Apapun akan aku lakukan, asal kamu bahagia, Sher."

Shereena bingung apakah ia harus senang atau sedih mendengar penuturan kekasihnya itu. Namun, perasaan tak enak seketika saja menyeruak. Dia telah menjelma menjadi perempuan yang egois karena sudah berniat membuat renggang sebuah hubungan persahabatan yang telah terjalin jauh sebelum dia menjadi kekasih Dika.


“Sayang. biar lebih meyakinkan, gimana kalau Roby aku suruh ke sini?”


Shereena hanya mengangguk lemah. Dalam hati, dia merasa sangat bersalah dan juga malu karena telah menuduh Dika yang bukan-bukan.


Tepat pukul 13.00 Roby tiba di Wiki’s Cafe. Dia menyalami dan menyapa Shereena dengan ramah, kemudian bersalaman erat dengan Dika disusul melakukan tos bersama.


“Hai, Bro, ada apa ini? Kok, kayaknya serius banget? Kalian, tuh, tega, ya. Jomlo seperti aku disuruh jadi saksi meet and greet sepasang kekasih. Membuat hati ini semakin meronta-ronta mendamba hadirnya bidadari surga.” Roby duduk di bangku, kemudian memandang ke arah Shereena yang sedang menekuri gelas minumannya. Lelaki berperawakan jangkung kurus itu berpaling kepada Dika, menuntut penjelasan.


“Gini, Bro, calon istriku tercinta ini ingin mendengar cerita langsung dari kamu tentang persahabatan kita dan ingin menanyakan soal akun ini.” Dika mendekatkan ponsel Shereena kepada Roby.


“Oooh tentang itu. Jadi begini Sher. Dulu, aku punya adik laki-laki. Kalau sampai sekarang masih ada, umurnya kira-kira sebesar pacarmu ini. Namun, sayangnya penyakit langka telah merenggut nyawa dia. Adikku hanya bertahan sampai usia 5 tahun. Aku sangat kehilangan dia, karena ketika masih hidup, dia satu-satunya teman bermainku. Saat bertemu dengan Dika untuk pertama kalinya, aku seperti melihat sosok adikku dalam diri dia. Kesamaan hobi, kesamaan profesi, dan banyak hal membuat aku merasa cocok bersahabat dengan Dika. Kami sudah sejak kecil bersahabat sampai kapan pun akan seperti itu."


Seorang pelayan berseragam ungu muda mendekati meja mereka dengan membawa nampan berisi segelas vanilla latte pesanan Roby, lalu menaruh gelas itu di atas meja. Roby menyeruputnya sedikit.


"Jadi, Sher, nyantai aja. Walaupun aku jomlo, tapi aku pria sejati, kok. Masih suka sama perempuan cantik. Aku minta maaf sama kamu kalau selama ini kehadiranku mengganggu hubungan kalian. Sunnguh aku nggak ada maksud seperti itu. Sekali lagi aku tegaskan, aku dan pacar kamu ini bener-bener bersahabat sebagai sesama lelaki normal, kok. Nggak ada apa-apanya." Roby kembali menyeruput minumannya, lalu mengamati ponsel yang tadi disodorkan Dika.


"Soal akun ini aku yang buat. Nggak ada maksud apa-apa cuma sebagai tanda persahabatan aja.”


Shereena menelan saliva. Dia menyeruput hot chocolate yang sejak tadi diabaikannya dan sudah mulai dingin untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering. Perempuan itu mulai menyusun kata-kata di benaknya dan berharap, lidahnya tak menjadi kelu untuk berucap.


“Maafin aku sudah menuduh yang bukan-bukan. Ini karena aku merasa diabaikan, aku jadi merasa kesal dan sempat membenci kehadiranmu di antara kami. Maaf, Rob, Dik. Aku nggak mau jadi manusia egois yang merusak persahabatan kalian.” Shereena kembali tersedu. Dika mengelus-elus lembut punggung perempuan terkasih, berusaha meredakan tangisnya.


“Ya sudah, semua sudah clear, kan? Jangan ada cry, cry, lagi, deh. Keep smile dan silakan lanjutkan ngedate-nya. Aku mau window shopping dulu ke BEC, siapa tahu bertemu jodoh." Roby beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah pergi.


“Rob! Janji, ya, setelah kami menikah, kalian tetap bersahabat dekat,” ucap Shereena tulus.

“Itu pasti,” ujar Roby, kemudian kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti oleh suara Shereena barusan.

Setelah Roby berlalu, Shereena meminta maaf kepada Dika seraya memeluk sang kekasih.

“Dik, maafin aku, sudah menuduhmu yang bukan-bukan.”

“Nggak apa-apa, Sayang. Aku juga minta maaf karena terlalu sering mengabaikanmu dan kurang memperhatikanmu. Wajar saja kalau kamu jadi uring-uringan. Aku janji, akan menjadi kekasih yang lebih baik lagi.”


Angin sejuk berembus di luar sana disertai rintik hujan yang perlahan-lahan mulai membasahi bumi, turut menemani dua hati yang tengah dipenuhi rasa cinta.

The End 

Daftar Isi Cerpen 


Selengkapnya, INDEKS LINK 

Judul : My Envious, Story Love Young Adult Romance 

Author , Teh Icus

A mom, a wife, and a fiction lover
Bebeb Admin
Bebeb Admin Admin Bebebs Belajar Bersama Bisa Comunity

Post a Comment for "Cerita Romantis, Aku Hanya Cemburu"